Ahli Vulkanologi ITS Bagikan Langkah Penanganan dan Mitigasi Erupsi

SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Indonesia kembali di rundung duka akibat terjadinya beberapa bencana. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah tujuh gunung api mengalami erupsi hampir bersamaan pada akhir pekan lalu.

Bencana alam diawali erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Jumat, (04/09/26) malam. Lalu Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Dukono di Maluku Utara, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

Hal ini mendapatkan tanggapan serius Ahli Geologi bidang Vulkanologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng

Ahli Geologi bidang Vulkanologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng. (Foto : Istimewa/Warta Indonesia)

Menurut Dr. Haris, erupsi yang terjadi dalam kurun waktu berdekatan tersebut kerap dianggap sebagai suatu fenomena ‘domino’ yang disebabkan oleh satu faktor geologis. Dimana, aktivitas vulkanik dan tektonik yang terjadi merupakan fenomena biasa yang dipicu oleh tingginya proses kebumian.

“Termasuk terjadinya gempa bumi dan erupsi gunung api yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara,” ucap Dr. Haris, Senin, (07/09/26) di Surabaya.

Di tengah tingginya aktivitas vulkanik di Indonesia, upaya mitigasi bencana dan edukasi publik menjadi sorotan. Hal ini disebabkan karena proses kebumian tersebut menuntut masyarakat untuk memahami status dan langkah mitigasi secara tepat yang harus dilakukan.

Oleh karena itu, lanjut Dr Haris, pentingnya mitigasi berbasis data pemantauan. Melihat kondisi yang terjadi dalam satu pekan ini, Haris menilai kewaspadaan dapat dilakukan dengan mengikuti status aktivitas masing-masing gunung.

Dengan menerapkan empat tingkatan status aktivitas gunung api dapat menjadi acuan bagi masyarakat hingga pemerintah dalam menentukan langkah pengamanan. Status gunung api Normal, Waspada, Siaga, hingga Awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan.

Baca Juga  Bantu Tanggap Darurat Covid-19, ITS Produksi Face Shield Mask

Pemerintah melalui Badan Geologi serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menyediakan kanal informasi digital, yakni Magma Indonesia. Piranti lunak tersebut menyajikan data aktivitas seluruh gunung api di Indonesia secara real-time yang diperbarui secara berkala.

Tersedianya akses informasi resmi dengan kabar yang terus diperbaharui, masyarakat diharapkan tidak mudah termakan berita palsu yang beredar di internet. Karena pada situasi darurat seperti saat ini, masyarakat harus cermat dalam menyerap informasi.

“Karena saat ini banyak sekali prediksi palsu, padahal tidak ada yang dapat memastikan kapan waktu pasti gunung api akan erupsi,” tegasnya.

Sedangkan, pada status Waspada dan Siaga, masyarakat dapat menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu. Pembatasan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik yang dapat terjadi mengikuti karakter erupsi.

Selain ancaman material vulkanik, abu erupsi juga perlu mendapat perhatian khusus. Material yang dihasilkan pada aktivitas tersebut dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Salah satu contohnya abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terus menyebar hingga ke wilayah Jawa Tengah.

“Hasil letusan tersebut kaya akan kandungan silika yang membentuk kristal-kristal runcing dan tajam. Material mikro tajam tersebut dinilai sangat berbahaya bagi saluran pernapasan manusia, serta menggores kaca jika terjadi gesekan pada permukaan. Selain itu, sebaran abu juga dapat mengurangi jarak pandang hingga berpotensi mengganggu mesin pesawat yang membahayakan penerbangan,” ungkap Dr Haris.

Haris mendorong sinergi dan kolaborasi lintas sektor pemerintahan yang menjadi sebuah keharusan. Koordinasi ini melibatkan peran PVMBG selaku pemantau aktivitas gunung api, BMKG untuk analisis arah angin dan cuaca, serta Kementerian Perhubungan untuk pengaturan jalur penerbangan demi memprioritaskan keselamatan publik.

Baca Juga  Khofifah : “Student East Java Championship” Ajang Kreatifitas Bagi Pelajar SMU

Untuk jangka panjang, Haris menganjurkan pemerintah serta instansi terkait untuk memperkuat edukasi kebencanaan sebelum aktivitas meningkat. Ia berpendapat bahwa langkah edukasi dan sosialisasi membantu masyarakat memahami risiko tanpa menimbulkan kepanikan. (*)

  • Pewarta : Tulus Widodo
  • Foto : Istimewa
  • Editor : Rizal IT

You may also like...