Sejak Usia 9 Tahun Devan Menekuni Dunia Akting
MAGELANG || WARTAINDONESIA.co – Meskipun masih duduk dibangku sekolah dasar, Devanand Pradipta Bayuaji bocah asal Yogyakarta sudah cukup akrab dengan suasana lokasi syuting serta jago dalam berperan.
Devan yang baru berusia 12 tahun ini anak pertama dari dua bersaudara ini mulai mengenal dunia peran ketika berusia sembilan tahun melalui kelas teater Art For Children. Dimana, melalui kelas teater, Devan bisa bebas berekspresi, berteriak, meluapkan emosi, hingga memerankan karakter yang berbeda dari dirinya sehari-hari.
“Awalnya karena bisa teriak-teriak, mengeluarkan ekspresi dan emosi. Bisa jadi peran lain juga, menurut saya seru,” kata Devan usia melakukan proses syuting film pendek berjudul Jarkoni di Kota Magelang, Senin, (05/10/26).
Dari kelas teater tersebut, kesempatan Devan untuk terjun ke dunia produksi audiovisual mulai terbuka. Ia kemudian melanjutkan belajar akting melalui sebuah agensi. Dari sana, berbagai kesempatan mulai datang, mulai dari menjadi extras film layar lebar, TVC, hingga sejumlah film pendek.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Devan untuk terus mengasah kemampuan. Karakter yang diperankannya pun cukup beragam, meski ia mengaku lebih sering mendapatkan peran sebagai anak usia sekolah dasar yang usil, jahil, tetapi tetap polos.
Sejumlah proyek yang pernah diikutinya antara lain Coba Lagi dari UNY, extras film layar lebar COH, TVC Bank Jateng, TVC Lazismu, extras Emmy, extras di kawasan Prambanan, serta sejumlah film pendek seperti karya bersama Kak Edo, Jarkoni, Vaterland, dan film pendek bernuansa Ramadan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, film pendek Jarkoni menjadi salah satu proyek yang paling berkesan bagi Devan. Dalam film itu, ia memerankan karakter Tama yang banyak menggambarkan kehidupan sehari-hari.
“Dari semua peran, yang paling berkesan adalah di film Jarkoni sebagai Tama. Ceritanya tentang kehidupan sehari-hari, jadi lebih santai memerankannya,” terangnya.
Bagi Devan, dunia syuting juga bukan sesuatu yang membuatnya merasa terbebani. Justru sebaliknya, ia menganggap lokasi syuting seperti tempat bermain baru. Bertemu orang-orang baru, mendapatkan teman baru dan mencoba berbagai karakter menjadi pengalaman yang menyenangkan.
“Di tempat syuting seperti punya tempat bermain baru, punya teman baru. Semuanya seru. Namun, meskipun syuting itu seru dan menyenangkan, pendidikan tetap nomor satu,” tegasnya.
Sang ibu, Elyrapih Indriani Nursiati mengaku memberikan dukungan selama aktivitas tersebut memang menjadi sesuatu yang disukai anaknya. Menurutnya, sebagai orang tua ia tidak ingin memaksakan pilihan kepada Devan.
“Dukungan diberikan sebagai bentuk kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi minat dan kemampuannya di luar bidang akademis. Selama Devan suka, saya mendukung dan memberikan fasilitas yang dia butuhkan tanpa memaksa. Pendidikan tetap nomor satu sebagai bekal dia di masa depan,” ungkap Ely.
Ia menilai kegiatan seperti belajar akting dapat menjadi pengalaman tambahan yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Selain melatih kemampuan seni peran, Devan juga belajar disiplin, menghafalkan skrip, berkomunikasi dengan orang lain dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Bagi Ely, melihat anaknya berani mencoba dan berkembang menjadi kebanggaan tersendiri. Namun ia menyadari bahwa perjalanan Devan masih panjang. Karena itu, pendampingan tetap menjadi hal penting agar aktivitas kreatif yang dijalani dapat berjalan seimbang dengan proses tumbuh kembangnya. (*)
- Pewarta : Diwan Ndut
- Foto : Istimewa
- Editor : Ronie Dwito