Bank Indonesia Terus Memperkuat Kebijakan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan efek besar bagi ekonomi dunia, namun perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan dengan perkembangan inflasi IHK yang terkendali pada kisaran 2,5±1%.
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam kegiatan Media Briefing TW II bertema “Sinergi Memperkuat Stabilitas untuk Mendukung Ketahan Ekonomi Jawa Timur dalam Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri” pada Senin, (22/06/26) di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur.
Ibrahim menyampaikan bahwa, penutupan jalur strategis menyebabkan gangguan rantai perdagangan dunia (termasuk minyak). Sehingga, menyebabkan lonjakan harga minyak, perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dari menjadi 3,0% (yoy) dari tahun lalu 3,4% (yoy), dan peningkatan inflasi global. Sehingga, mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter dunia.

“Namun, perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan dengan perkembangan inflasi IHK yang terkendali pada kisaran 2,5±1%,” ucap Ibrahim.
Ibrahim menyebutkan, ekonomi Indonesia pada Tw.I-26 tumbuh sebesar 5,61% (yoy), ditopang oleh akselerasi konsumsi rumah tangga serta belanja pemerintah yang mengalami pertumbuhan yang signifikan.
“Inflasi IHK tetap terjaga pada kisaran target 2,5±1% berkat konsistensi kebijakan moneter dan koordinasi TPIP – TPID,” terangnya.
Selain itu, lanjut Ibrahim, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan berbagai instrumen di tengah tingginya gejolak global.
Beberapa kebijakan dilakukan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Diantaranya, menaikkan BI Rate 5,75%, Suku Bunga Deposit Facility (DF) 4,75% dan Suku Bunga Lending Facility (LF) 6,50%.
Sedangkan, pertumbuhan ekonomi Jawa pada triwulan I 2026 sebesar 5,79% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,61% (yoy). Hal ini didorong oleh Konsumsi Rumah Tangga sejalan dengan momentum festive season, Konsumsi Pemerintah akibat oleh realisasi program-program prioritas pemerintah.
Dari sisi Lapangan Usaha, Lapangan Usaha Perdagangan tumbuh 5,49% (yoy), selaras dengan pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga. Sementara, Industri Pengolahan tumbuh 4,40% (yoy), melambat dibandingkan Triwulan IV 2025 seiring eskalasi geopolitik global.
“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Jawa diprakirakan masih tetap kuat dengan dukungan konsumsi rumah tangga dan investasi,” tegasnya.
Pada Mei 2026, Jawa mencatatkan inflasi sebesar 0,19% (mtm) dan 2,91% (yoy), terjaga dalam rentang 2,5 ± 1%. Kenaikan harga beberapa komoditas hortikultura menjadi pendorong utama inflasi Jawa Mei 2026 seiring anomali cuaca di tengah harga pupuk dan plastik yang meningkat.
Ke depan, inflasi diprakirakan tetap terkendali pada kisaran 2,5 ± 1% melalui efektivitas kebijakan moneter dan koordinasi erat antara TPIP-TPID.
Ekonomi Jawa Timur triwulan I 2026 tumbuh meningkat (5,96% yoy), didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah, di tengah perlambatan ekspor.
Dalam kesempatan pemaparan Perkembangan dan Outlook Perekonomian Jawa Timur, Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan informasi tentang event akbar bertajuk Java Coffe & Flavour Fest (JCFF) yang akan diselenggarakan pada 17 – 19 Juli 2026 mendatang.
JCFF 2026 merupakan high level event (HLE) tahunan KPw BI Provinsi Jawa Timur untuk memperkenalkan value, sejarah dan filosofi kopi Jawa yang berkontribusi signifikan terhadap pengembangan komoditas kopi nasional.
Gelaran JCFF tahun 2026 merupakan pelaksanaan tahun ke-5 sejak pelaksanaan pertama di tahun 2022 yang saat itu dinamai Java Coffee Culture (JCC). Dimana, kegiatan ini merupakan kegiatan Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang akan diselenggarakan di Jakarta. (*)
- Pewarta : Tulus Widodo
- Foto : Tulus
- Editor : Rizal IT