Dibalik Kesuksesan UMKM Teh Gambyong, Ada Buruh Teh, Ini Suka Dukanya

SOLO || WARTAINDONESIA.co – Suasana sejuk dan rindang pasti dirasakan semua masyarakat saat mengunjungi perkebunan teh yang berada di dataran tinggi. Termasuk, perkebunan teh lokal yang berada di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Bagi pelaku UMKM bisnis teh masih menjadi peluang yang menjanjikan meskipun membutuhkan kerja keras untuk bisa sukses. Namun, dibalik itu, ada suka duka yang dirasakan para buruh petik teh yang rata rata perempuan.

Salah satunya adalah Sumiati (52) asal Kampung Sumber Gede Solo yang telah mengabdikan diri sebagai pemetik teh selama 20 tahun di perkebunan milik Eko Wuryanto yang mengembangkan Teh Gambyong di Desa Kemuning.

“Sebagai perempuan desa yang hanya mengeyam pendidikan sekolah dasar sangat sulit untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga, menjadi pemetik teh adalah solusi untuk bisa bertahan hidup,” kata Sumiati saat ditemui di perkebunan yang berada di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada Selasa, (06/10/26).

Menurutnya, menjadi buruh petik teh memang tidak sulit. Namun, tantangan yang harus dilewati adalah perjalanan menuju perkebunan membutuhkan tenaga ekstra mencapai jarak 5 KM berjalan kaki. Serta, upah yang diterima sangat minim bekisar 9.000 rupiah/10kg teh.

“Setiap hari saya hanya mampu menghasilkan 30kg teh atau senilai 27.000 rupiah upah saya setiap hari. Namun, yah saya syukuri saja masih bisa bekerja,” terangnya sembari tersenyum.

Hal senada juga disampaikan Rebi (57) asal Kampung Sumber Gede yang bekerja sebagai buruh petik teh selama 30 tahun. Ia harus berjalan kaki selama 30 menit untuk bisa mencapai perkebunan milik juragan di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca Juga  Bangkitkan Perekonomian, Penyandang Tunanetra Ikuti Pelatihan Trading Saham

“Meskipu upah yang diterima dirasa minim dan tidak mencukupi kebutuhan sehari hari, namun tetap saya syukuri. Meskipun suami juga bekerja sebagai buruh serabutan. Terlebih lagi, saya harus menghidupi 2 anak,” tandas Rebi.

Selain Sumiati dan Rebi, suka duka sebagai buruh petik teh juga dirasakan Kasmi (46) yang sama sama berasal dari Kampung Sumber Gede. Ia bekerja sudah sejak lulus SD tahun 1992 di perkebunan teh Desa Kemuning milik Eko.

“Saya bekerja dari jam 6 – 10 pagi untuk bisa mendapatkan 30 hingga 50 KG daun teh dengan upah rata rata 36.000 rupiah. Dibilang cukup gak cukup yah dicukup cukupkan, “ ungkap Sumiati sembari tertawa kecil.

Perempuna Kampung Gede Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang rata rata bekerja sebagai buruh petik teh Kemuning seperti Sumiati, Kasmi dan Rebi ini hanya berharap, bisa mendapatkan kelayakan upah dan bantuan dari pemerintah atau instansi terkait agar kesejahteraan kehidupannya bisa lebih layak. (*)

  • Pewarta : Tulus Widodo
  • Foto : Tulus
  • Editor : Ronie Dwito

You may also like...