Alih Fungsi Lahan di Perkotaan Menjadi Salah Satu Penyebab Banjir

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Seringkalinya daerah perkotaan termasuk kota Surabaya setiap musim hujan terlebih dengan intensitas tinggi selalu mengalami kebanjiran. Hal ini menimbulkan banya kerugian bagi masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ir Ismail Sa`ud M MT mengkaji pengaruh bangunan tinggi terhadap kontribusinya dalam menambah volume run off (air limpasan) beserta solusi penanggulangannya.

Ir Ismail Sa`ud mengatakan bahwa, alih fungsi lahan yang tadinya berupa kawasan resapan air hujan, tak lagi mampu menjalankan fungsinya karena telah disulap menjadi lahan terbangun. Sehingga, apabila ada hujan maka air yang meresap berkurang dan menjadi run off atau air yang mengalir.

“Di Surabaya sendiri, saat ini ada 65 bangunan tinggi seperti apartemen dan pusat perbelanjaan yang telah dibangun dengan ketinggian 20 hingga 79 lantai dan 65 bangunan tinggi yang lain dengan ketinggian 12 hingga 19 lantai,” kata Ismail saat dijumpai di Kampus ITS, Kamis, (06/02/20).

“Air hujan tidak selalu jatuh tegak lurus karena adanya pengaruh arah angin. Oleh karena itu, ada kemiringan yang terjadi ketika air hujan jatuh. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa dinding-dinding bangunan tinggi juga berpengaruh terhadap penambahan volume air hujan karena turut menambah aliran permukaan,” tambahnya.

Namun saat ini, Ismail mengungkapkan bahwa rencana drainase Surabaya (Surabaya Drainage Master Plan, SDMP 1998) tidak mempertimbangkan kontribusi limpasan curah hujan dari bangunan bertingkat tinggi. Sehingga regulasi mengenai pengendalian limpasan air hujan dari bangunan tinggi belum ada.

“Oleh karena itu, penanganan khusus dalam mengendalikan limpasan hujan yang disebabkan oleh bangunan bertingkat tinggi juga diperlukan,” terangnya.

Berdasar perhitungan yang telah dilakukannya, bidang vertikal tinggi seperti dinding bangunan ternyata memberi kontribusi 7 hingga 9 persen dari volume air hujan. Karena itu, bangunan-bangunan bertingkat tinggi harus memiliki sistem pengalokasian air hujan sendiri. Sehingga, dapat membantu mereduksi banjir yang terjadi di perkotaan.

Ada dua pertimbangan yang dapat dilakukan. Alternatif yang pertama adalah dengan disediakannya tampungan air hujan sementara dari tiap bangunan bertingkat tinggi. Hal ini dimaksudkan agar limpasan dari dinding bangunan bertingkat tinggi tidak turut membebani saluran publik yang telah disiapkan pemerintah.

Sedangkan, solusi kedua ialah dengan menerapkan sistem pemanenan air hujan. Tidak jauh berbeda dengan alternatif pertama, melalui sistem ini air tetap ditampung namun bedanya tidak dibuang atau diresapkan melainkan dimanfaatkan sebagai air baku.

Alumnus Teknik Sipil ITS ini pun menarget agar sistem ini dapat diterapkan di lingkungan rumah warga, karena akan ada lebih banyak keuntungan yang diperoleh. Selain sebagai pengendali volume limpasan air hujan dan mencegah terjadinya banjir, air hujan yang ditampung juga dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai air baku. Ismail mencetuskan ide ini sebagai sistem alokasi pengendali air yang cerdas (smart water allocation system).

Saat ini hampir tidak ada masalah mengenai ketersediaan air baku, namun tak dapat dipungkiri bahwa air baku yang bersumber dari daerah aliran sungai (DAS) lama kelamaan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Selain itu, lanjutnya, penelitian ini juga menggunakan metode Log-Pearson tipe III untuk mengukur curah hujan yang terjadi di Surabaya.

Ismail berharap kajiannya ini dapat menambah wawasan baru dari sisi keilmuan dan dapat dikembangkan lebih jauh. Tidak hanya itu, penelitiannya dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam hal regulasi pengembang yang ingin membangun bangunan bertingkat tinggi supaya ikut bertanggung jawab dalam mereduksi volume limpasan air hujan.

  • Pewarta : Tulus W
  • Photograper : Istimewa
  • Publisher : Dwito

You may also like...