Kemenlu RI : Lulusan Sastra UNAIR Mampu Rintis Karier Diplomat
SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Lulusan Departemen Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga (UNAIR) diyakini mampu memberikan kontribusi besar melalui penguasaan bahasa dan pemahaman budaya.
Hal tersebut disampaikan Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Dhanang Rachmanda Fitri saat mengisi acara Kuliah Tamu pada Jumat, (06/03/26) di Ruang WS Rendra, Fakultas Ilmu Budaya FIB, Kampus Dharmawangsa-B.
Dalam kesempatan tersebut, Dhanang memaparkan sejarah panjang hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang yang telah terjalin kokoh sejak 1968. Kerja sama strategis lintas bidang tersebut mencakup pembangunan industri, ketenagakerjaan, hingga perluasan konektivitas infrastruktur.
“Keberhasilan pembangunan nasional kita tidak lepas dari peran kolaborasi ini. Dan semuanya bisa dilihat dari sejarah hubungan panjang yang saling menguntungkan,” ucap Dhanang.
Menurut Dhanang, lulusan Sastra Unair dinilai mampu dalam menyesuaikan gaya komunikasi saat berhadapan langsung dengan representasi negara asing.
“Bahasa Jepang itu kuatnya di konteks. Sehingga kalian dibekali bagaimana memahami konteks di dalamnya yang mana kemampuan ini sangat berguna dalam berdiplomasi,” terangnya.
Peran krusial diplomat di luar negeri turut mencakup penyampaian pesan strategis pejabat tinggi negara agar tepat sasaran. Selain berdiplomasi secara politik dan mempromosikan budaya, diplomat wajib memberikan perlindungan penuh bagi Warga Negara Indonesia.
“Tugas kita misalnya bagaimana bisa menyampaikan apa yang diinstruksikan presiden dengan baik, sekaligus menjembatani pihak Jepang terhadap semua instansi di Indonesia,” papar Dhanang.
Lebih lanjut, kewenangan utusan negara kini semakin luas dan bebas berdasarkan aturan Perpres Nomor 150 Tahun 2024. Profesi ini menuntut kemampuan adaptasi tinggi terhadap perbedaan gaya komunikasi serta ekspektasi kerja kementerian yang profesional.
Kemampuan kebahasaan lulusan sastra menjadi sangat penting saat menyusun draf perjanjian internasional yang umumnya menggunakan tiga bahasa. Mereka terbiasa menganalisis dokumen penting menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta bahasa negara mitra yang bersangkutan.
“Poin plus anak sastra adalah memegang kunci diplomasi dari segi kebahasaan, pemahaman sosial, dan juga kemampuan komunikasi khusus yang tidak dimiliki jurusan lain,” ungkap Dhanang.
Terkait rekrutmen kementerian, Dhanang membagikan strategi sukses menghadapi sesi wawancara menggunakan full bahasa Inggris dan bahasa Jepang dasar. Pelamar terpilih nantinya akan mendapat pembekalan lanjutan yang komprehensif mengenai praktik diplomasi yang sesungguhnya. (*)
- Pewarta : Tulus Widodo
- Foto : Istimewa
- Editor : Rizal IT