Tim Pengmas Unair Berikan Penyuluhan Cara Efektif Beternak Sapi Potong di Gresik

GRESIK_WARTAINDONESIA.co – Sebagai salah satu bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya lakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas).

Kali ini, Tim Pengmas Unair yang diketuai oleh dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unair, Dr. Budi Utomo, drh., M.Si mengadakan kegiatan Penyuluhan bertajuk “Cara Efektif Beternak Sapi Potong” selama dua hari pada tanggal 27-28 September 2020 di Desa Tanjung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik.

Nur Hidayat selaku salah satu anggota Tim Pengmas Unair mengatakan bahwa, pelatihan yang diikuti sekitar 30 peternak sapi potong ini bertujuan memberikan edukasi cara beternak sapi potong yang baik, efisien dan mudah. Sehingga, bisa menghasilkan sapi yang sehat dan gemuk.

“Selain memberikan penyuluhan secara materi, Tim Pengmas Unair juga mengajak peternak praktik langsung dengan cara baru yang sudah dijelaskan oleh pemateri yaitu Dr. Budi Utomo,” kata Hidayat, Selasa, (29/09/20).

Dalam kesempatan penyuluhan, Dr. Budi Utomo menjelaskan cara beternak sapi potong secara lebih efektif dan efisien dengan metode pemberian ransum yang merupakan pembaharuan dari metode metode lain yang sudah digunakan para peternak sebelumnya.

Update ilmu beternak perlu dilakukan karena pengetahuan peternak sangat diperlukan guna meningkatkan produktivitas sapi potong,” terang Dr. Budi.

Komposisi pakan, lanjut Dr. Budi, perlu diperhitungkan guna menunjang berat dari sapi potong sendiri. Lebih spesifiknya, formulasi ransum yang dibagikan dalam pelatihan ini yaitu dedak 50%, bungkil kelapa 25%, tepung jagung 15%, bungkil kacang tanah 8%, garam dapur 1%, dan kapur 1%. Sementara pakan hijauan diberikan 15-20% dari berat badan ternak dan dicampur dengan Bio-N Plus untuk memacu pertumbuhan sapi potong.

“Beternak sapi potong sebenarnya sangat efisien karena membutuhkan lahan yang tidak terlalu luas. Apalagi di Desa Tanjung Gresik ini lahan tersedia cukup luas,” paparnya.

Baca Juga  PUSPAS Unair Dukung Pengembangan Penelitian Praktik Wakaf di Indonesia

Materi lain yang turut disampaikan yaitu pelatihan untuk meningkatkan pertambahan berat badan sapi. Peternak juga diberi pengetahuan tentang metode identifikasi sapi yang sakit, birahi, dan inseminasi buatan, serta pemeriksaan kebuntingan.

“Deteksi sapi yang sakit sejak dini harus mutlak tahu. Gejala sakit yang paling mudah dimengerti yaitu konsumsi pakan menurun. Sementara, untuk mengartikan tanda tanda sapi birahi atau yang minta kawin memiliki tanda abang (merah), aboh (bengkak), anget (hangat) pada vulva (saluran kelamin betina), keluarnya lender bening dan sapi bengak-bengok (teriak),” tandasnya sembari tertawa.

Setelah peternak menemukan gejala-gejala tersebut, selang 12 jam peternak harus memanggil inseminator untuk dilakukan suntik kawin, serta satu bulan kemudian untuk dilakukan pemeriksaan kebuntingan oleh dokter hewan.

Dalam kesempatan ini, Dr. Budi Utomo, juga mengingatkan para peternak sapi akan pentingnya peran peternak bagi Indonesia. Sebabnya, karena aktivitas beternak sapi potong turut menunjang kebutuhan pangan nasional. Dengan beternak, kebutuhan manusia akan protein hewani dapat terbantu untuk tercukupi.

“Meskipun, masih dalam masa pandemi harus tetap semangat untuk beternak sapi. Tapi harus tetap menerapkan protokol kesehatan dengan sering mencuci tangan dan menggunakan masker,” pungkas Dr. Budi. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...