
Jokowi Lakukan Reshuffle, Pengamat Politik UNAIR Berikan Penilaian
SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Setelah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) lakukan reshuffle dengan mengocok ulang enam pos jajaran menterinya pada Rabu, (23/12), langsung mendapat respon dan tanggapan positif dari pengamat politik Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair).
Dosen Unair Fahrul Muzaqqi, S.IP., M.IP., menilai keenam sosok yang telah dilantik Presiden Jokowi tersebut sudah cukup sesuai dan mewakili harapan publik.
Dinilai dari segi kompetensi, dosen kelahiran Jepara itu melihat keenamnya memiliki kualitas yang cukup mumpuni. Kualitas yang dimaksud, yakni bagaimana pengalaman atau track record-nya, kemampuan leadership, dan komitmennya.
Meski begitu, Fahrul menyebutkan bahwa masih ada beberapa menteri yang secara keahlian khusus belum terlihat. Dosen mata kuliah Elite Politik tersebut mencontohkan salah satunya adalah Tri Rismaharini yang memiliki background sebagai Wali Kota Surabaya. Menurut Fahrul, Risma tidak memiliki keahlian spesifik untuk menduduki kursi Kementerian Sosial (Kemensos).
“Namun, bukan berarti beliau (Tri Risma Harini, Red) tidak mumpuni karena yang dibutuhkan adalah kemampuan leadership dan komitmen dalam menjalan program-program prioritas presiden,” ucap Fahrul melalui rilisnya, Sabtu, (26/12/20)
Menurut Fahrul, terpilihnya Budi Gunadi sebagai Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan background ilmu bukan dari rumpun kesehatan, sempat menjadi pro-kontra masyarakat. Fahrul –begitu sapaan akrabnya– menilai hal itu akan menjadi tantangan tersendiri ke depan. Namun, dia menyebutkan tantangan tersebut bisa di-back up oleh tenaga ahli yang ada di dalamnya (Kementerian Kesehatan).
“Kemampuan yang penting untuk dimiliki, terutama dalam penanganan pandemi, sambung Fahrul, adalah kemampuan managerial yang cepat, sesuai target, dan berbasis data. Menurut saya terpilihnya Budi sangat disesuaikan dengan kondisi saat ini. Di mana menteri perlu mengambil keputusan cepat, efektif, sesuai data, dan leadership yang bagus. Asal semua itu terpenuhi, tidak masalah kalau bukan dari ranah kesehatan,” terangnya.
Ditanya perihal bergabungnya Sandiaga Uno dalam kabinet menteri, dosen yang lahir pada 7 Oktober 1983 itu menyampaikan bahwa hal tersebut menjadi ciri tersendiri bagi kepemimpinan Jokowi yang mengakomodasi atau merangkul semua elemen politik demi stabilitas. Menurutnya, dua hal penting yang dibutuhkan saat pandemi adalah stabilitas politik dan ekonomi. Dengan masuknya Sandiaga yang diketahui sebelumnya merupakan rival Jokowi, diharapkan itu mampu meredam kegaduhan politik.
Meski memiliki sisi positif, namun Fahrul juga menjelaskan keputusan itu memiliki sisi kelemahan di mana pihak oposisi menjadi kecil dan lemah. Lemahnya oposisi, dianggapnya bisa menyebabkan berkurangnya kritik terhadap segala kebijakan pemerintah.
Fahrul melihat, tidak tertutup kemungkinan bahwa beberapa bulan ke depan Jokowi melakukan reshuffle kembali terhadap beberapa menterinya. Menurutnya, saat ini presiden sedang dalam masa mempertimbangkan atau mengevaluasi terhadap beberapa kursi kementerian lainnya.
“Sementara ini, enam kursi yang diganti adalah yang paling urgent. Kalau terlalu banyak yang diganti nanti berisiko terhadap macetnya pelaksanaan program,” ungkap Fahrul. (*)
- Pewarta : Tulus W
- Foto : Istimewa
- Penerbit : Dwito