Ibu PKK Karangampel Magelang Hidupkan Kembali Kain Ramah Lingkungan
MAGELANG || WARTAINDONESIA.co – Belajar batik bukan sekadar menghasilkan kain bermotif indah. Namun, bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali kembali kekayaan tradisi leluhur yang selama ini mungkin semakin jarang disentuh oleh generasi muda.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kembali semangat cinta budaya batik, Ibu PKK Karangampel berkolaborasi bersama Komunitas Gasebo (Gabungan Senam Borobudur) dan Gores Arts Gallery Magelang mengadakan pelatihan Batik dan Simbut pada Senin, (31/08/26).
Perlu diketahui, Simbut dikenal sebagai salah satu bentuk tradisi tekstil dan teknik perintangan warna yang memiliki jejak sejarah panjang di Nusantara. Dalam perkembangan budaya tekstil, teknik-teknik sederhana semacam ini menjadi bagian dari akar pengetahuan masyarakat dalam menghias dan memberi warna pada kain, jauh sebelum teknik batik berkembang menjadi seperti yang dikenal luas saat ini.
Berbeda dengan proses membatik modern yang identik dengan penggunaan malam, canting, dan berbagai perangkat khusus, pembuatan Simbut dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih sederhana serta memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Untuk membuat bahan perintang warna, misalnya, dapat digunakan campuran tepung ketan, gula Jawa, garam, dan tawas. Bahan-bahan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kembali teknik tradisional yang lebih sederhana sekaligus mengedepankan prinsip ramah lingkungan.
Agus Daryanto perwakilan Gasebo mengatakan bahwa, konsep inilah yang dinilai menarik untuk diperkenalkan kembali, terutama kepada generasi muda. Selain memiliki nilai sejarah, Simbut menawarkan karakter yang sederhana, natural, nyaman digunakan, dan tetap memiliki kesan elegan serta artistik.
“Secara rutin, kami memberikan materi kepada para peserta setiap Senin dan Rabu. Materi diberikan secara bertahap agar mudah dipahami dan dipraktikkan,” kata Agus.
Melalui pelatihan tersebut, Agus berharap proses belajar yang dilakukan secara konsisten tersebut kelak mampu melahirkan karya-karya berkualitas yang tidak hanya layak digunakan, tetapi juga dapat dipamerkan dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
Seluruh peserta antusias mengikuti semua proses pelatihan. Dimana, proses pembelajaran diawali dari batik tulis, batik lukis, hingga batik cap, sebagai dasar untuk mengenal teknik perintangan warna dan memahami lebih jauh warisan budaya Simbut.
Menurut Agus, ditengah perkembangan industri kreatif, berbagai potensi alam dan pengetahuan tradisional di sekitar masyarakat sebenarnya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Bahan-bahan yang selama ini dianggap sederhana dapat diolah menjadi karya seni, fesyen, maupun produk kerajinan yang memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi, tren produk ramah lingkungan kini semakin mendapat perhatian, termasuk di kalangan generasi muda.
Pemanfaatan bahan alami dalam proses Simbut juga membuka peluang untuk mengembangkan konsep sirkular dan berkelanjutan. Bahan-bahan yang digunakan relatif mudah terurai dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi bagian dari pengolahan pupuk organik setelah melalui proses yang tepat.
Edy Gores Pemilik Gores Arts Gallery mengaku bersyukur ibu-ibu PKK sudah mulai membuahkan hasil, baik batik maupun Simbut. Semoga, kedepannya sudah bisa menghasilkan sebuah karya batik yang memiliki nilai ekonomi.
“Semoga pada Hari Batik Internasional nanti, bisa diadakan pameran batik dan Simbut hasil karya ibu PKK. Ini bukan hanya tentang membuat kain, tetapi bagaimana kita bersama-sama menghidupkan kembali warisan leluhur agar tidak hilang dan bisa dikenal generasi berikutnya,” pungkas Edy. (*)
- Pewarta : Diwan Ndut
- Foto : Istimewa
- Editor : Ronie Dwito