BI : Umbi Porang Tumbuhan Liar Kini Menjadi Peluang Bisnis Menggiurkan

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Dulu tanaman porang dianggap sebagai tumbuhan liar dipekarangan rumah. Namun, kini umbi porang ini menjadi budidaya pertanian yang memberikan banyak keuntungan dan menjadi peluang bisnis yang menggiurkan.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Jatim, Harmanta dalam program BI Ngopi (Ngobrol Online Inspiratif) Volume 27 bertema “Porang Dulu Liar Kini Diincar” pada Rabu, 17 Maret 2021.

Program Ngopi kali ini, BI menghadirkan narasumber menarik yaitu Petani Porang Viral, Paidi, Akademisi Universitas Brawijaya, Dr. Dodyk Pranowo, STP, M.Si dan Kepala Desa Klangon, Didik Kuswandi, SE.

Harmanta menyampaikan bahwa, saat ini porang tengah menjadi salah satu primadona petani bahkan eksportir di Tanah Air.  Dimana, umbi porang kini menjadi komditas yang banyak diincar untuk menjadi bahan baku berbagai industri.

“Potensi porang memang sangat besar melihat kebutuhan dan manfaatnya pada beberapa industri. Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung,” kata Harmanta, Rabu, (17/03/21).

Dimana, lanjut Harmanta, Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental. Bahkan, dapat digunakan sebagai bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Menariknya, dalam kesempatan Ngopi yang dikemas secara virtual tersebut, Petani Porang Viral, Paidi juga berbagi cerita tentang kesuksesan dan viralnya tanaman porang yang dianggap hanya bisa tumbuh pada wilayah hutan di lereng gunung. Namun, pada tahun 2010 dikembangkan pola rekayasa tanam tanaman Porang pada lahan perkebunan lainnya.

“Melalui rekayasa tanam tanaman Porang dengan lahan perkebunan/lahan pertanian didapatkan satu umbi porang (katak) dapat menghasilkan 7 bulbil tanaman porang. Saat ini telah dibuka laboratorium terbuka untuk pembelajaran rekayasa tanam budidaya porang yang dapat dipelajari masyarakat luas,” terang Paidi.

Baca Juga  Herman : Pembiayaan Kasus Covid-19 Ditanggung Kementerian Kesehatan

Sedangkan, Didik Kuswandani selaku Kepala Desa Klangon bercerita tentang mata pencaharian utama masyarakat desa Klangon adalah berkebun di lahan Perhutani dan masuk dalam impres desa tertinggal. Salah satu tanaman yang menjadi komoditas tanam pada lahan hutan tersebut adalah berbagai macam tanaman rempah-rempah sampai dengan tanaman Porang.

“Namun, sekarang hampir 100% warga Klangon saat ini telah menanam dan membudidayakan porang,” tandas Didik.

Menurut Akademisi Universitas Brawijaya, Dr. Doddyk Pranowo, peluang bisnis berbahan baku porang yang memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan seperti mie shirataki, beras konyaku, mie shirataki instant, pasta porang, konyaku, boba dan turunan makanan lainnya yang dapat digolongkan sebagai healthy food.

“Dengan potensi porang yang cukup besar terutama di pasar global, diharapkan pasar dalam negeri juga dapat didukung serta diperkuat dalam menyerap produk hasil pengolahan porang, ditengah tantangan branding produk porang yang cenderung masuk ke produk kelas menengah ke atas,” ungkap Doddyk.

Dr. Doddyk juga berharap, adanya dukungan inovasi dalam mempopulerkan produk olahan porang menjadi fokus pengembangan pasar porang dalam negeri. Sehingga, tanaman porang tidak hanya dinikmati oleh pasar luar negeri namun juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Tulus
  • Penerbit : Dwito

You may also like...