Kemenkumham Jatim Akan Menghukum Lebih Berat WBP yang Kembali Lakukan Kejahatan

SURABAYA-WARTAINDONESIA.co – Disampaikan secara tegas Kanwil Kemenkumham Jatim akan memberikan hukuman yang lebih berat kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang mengulangi tindak kejahatan dalam program asimilasi dan integrasi selama masa pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jatim Pargiyono melalui rilis resminya pada Senin, 13 April 2020 setelah mendapatkan infomasi adanya napi yang kembali melakukan kejahatan setelah mendapatkan program asimilasi.

Pargiyono mengatakan bahwa, pihak Kanwil Kemenkumham Jatim akan memberikan hukuman yang lebih berat bagi WBP dengan dikurung di sel isolasi hingga masa pemidanaannya berakhir apabila diketahui kembali melakukan tindak kejahatan.

“Sampai saat ini, ada 4 WBP di Jatim yang kembali melakukan perbuatan haramnya. Atau 0,1% dari keseluruhan WBP yang mendapatkan hak asimilasi dan integrasi,” kata Pargiyono melalui rilis resminya, Senin, (13/04/20).

Dijelaskan, masing masing yang terjadi di Blitar 1 orang WBP (dari Lapas Blitar/ pencurian sepeda motor), Surabaya 2 orang WBP (dari lapas Lamongan/ Jambret) dan di Malang 1 orang WBP (dari Lapas Madiun/ pencurian sepeda motor).

“Kalapas dan Karutan tidak dalam kapasitas bisa mengikuti satu persatu WBP secara mendetail,” imbuhnya.

Perlu diketahui, hingga saat ini Kanwil Kemenkumham Jatim telah memberikan hak asimilasi dan integrasi kepada 4.159 WBP. Mereka mendapatkan hak tersebut sesuai Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020. Seluruh WBP yang mendapatkan asimilasi dan integrasi telah sesuai dengan aturan yang berlaku dan melewati proses sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).

Selama ini Kanwil Kemenkumham Jatim telah berupaya melakukan upaya upaya pengawasan. Salah satunya dengan melakukan video call melalui aplikasi Whatsapp antara petugas Balai Pemasyarakatan dan Penjamin WBP.

“Namun, ada beberapa WBP yang keluarganya tidak memiliki smartphone, sehingga hanya bisa dihubungi melalui sambungan telepon biasa. Tetap ada komunikasi antara kami dengan WBP atau penjaminnya untuk memastikan WBP berkelakukan baik selama menjalani asimilasi dan integrasi di rumah,” terangnya.

Baca Juga  Polrestabes Surabaya Gelar Aksi Sosial Donor Darah Serentak

Pargiyono juga menegaskan kepada jajarannya untuk segera melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian yang melakukan penangkapan WBP dalam masa asimilasi dan integrasi. Ketika memungkinkan untuk langsung dikirim lagi ke Lapas, segera diminta untuk mendapatkan pembinaan dari pihak lapas/rutan yang bersangkutan.

Salah satunya menempatkan WBP yang bersangkutan di sel isolasi dan tidak mengijinkan kunjungan baik langsung maupun video call. Dan memasukkan yang bersangkutan ke “Register F” sehingga WBP tersebut tidak lagi bisa mendapatkan haknya berupa remisi, asimilasi maupun integrasi. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Photo : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...