Tips Pilih Skincare Aman dan Teruji Untuk Buah Hati
JAKARTA || WARTAINDONESIA.co – Memilih produk skincare yang baik untuk bayi dan anak-anak memang tidak bisa asal. Karena, perlu diketahui kulit bayi dan anak anak 30 persen lebih tipis dari orang dewasa serta lebih sensitif dan mudah menyerap zat apa pun yang dioleskan di kulitnya.
Banyak orang tua saat memilih produk skincare untuk si buah hati, melihat kemasan produk dengan klaim seperti “100% Alami”, “Organik”, atau “Dermatology tested” sudah bisa memunculkan rasa tenang.
Memilih skincare bayi dan anak bukan tentang mencari kemasan yang paling cantik atau memiliki berbagai klaim yang memberi kesan aman. Sebagai orang tua, harus kritis dan proaktif untuk memastikan bahwa semua klaim tersebut benar dan terverifikasi secara sah, tidak hanya akal-akalan produsen saja.
Perlu ketahui saat ini, industri perawatan anak sedang menghadapi maraknya fenomena greenwashing, yang bisa diartikan sebagai praktik pemasaran yang memberi kesan seolah suatu produk aman dan ramah lingkungan. Padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Sebuah studi pada 2024 mengungkapkan kalau dari puluhan merek kosmetik yang mengklaim ramah lingkungan untuk bayi, 39% di antaranya memanipulasi atau menyembunyikan detail informasi kemasan, dan hanya 18,4% yang memiliki sertifikasi organik resmi dari pihak ketiga.
Lalu, bagaimana caranya agar tidak mudah terkecoh oleh produk skincare bayi dan anak. Ada 5 cara memastikan produk-produk skincare ini benar-benar aman untuk si buah hati lewat simbol-simbol dan klaim yang ada di kemasannya.
Pertama, simbol kelinci (leaping bunny. Produk yang bebas dari uji coba pada hewan (cruelty-free) mencerminkan standar etika produksi dan transparansi pemilihan bahan baku. Ini memastikan tidak ada bahan kimia berbahaya atau zat uji coba tersembunyi yang berisiko bagi kulit sensitif anak.
Banyak produk bayi dan anak berlabel “Organik” yang perlu diwaspadai karena bisa jadi hanya klaim sepihak dari produsen tanpa sertifikasi resmi dari pihak ketiga terpercaya seperti Ecocert COSMOS Organic. Ada produsen yang tetap menempelkan klaim organik hanya karena menggunakan satu bahan baku organik, sementara 99% sisanya merupakan bahan sintetis.
Penggunaan bahan organik bersertifikat memastikan bahwa bahan-bahan organik dalam produk skincare diproses tanpa pestisida, pupuk kimia, dan rekayasa genetika (GMO). Pada kulit bayi yang sensitif, paparan residu bahan-bahan tersebut dari produk organik abal-abal dapat memicu iritasi, alergi, hingga risiko kesehatan.
Apa yang harus dilakukan. Pilih produk yang memiliki sertifikasi resmi Ecocert COSMOS. Untuk mendapatkan sertifikasi ini, produk wajib memenuhi standar ketat, yaitu minimal 95% dari bahan berbasis tumbuhan di dalamnya merupakan bahan organik.
Selain itu, produk dilarang keras menggunakan silikon, paraben, turunan minyak bumi, hingga bahan rekayasa genetika. Ecocert juga memastikan bahwa kemasan produknya ramah lingkungan dan pabrik pembuatnya diaudit secara fisik setiap tahun.
Namun, memiliki klaim sertifikasi saja belum cukup. Konsumen tetap perlu memastikan bahwa sertifikasi tersebut benar-benar valid.
Untuk memastikan sebuah produk memiliki sertifikasi Ecocert COSMOS Organic yang resmi, konsumen dapat melakukan pengecekan melalui basis data resmi. Selain itu, konsumen juga harus berhati-hati terhadap produk atau perusahaan nakal yang mencantumkan nama dan logo Ecocert COSMOS secara ilegal (pelanggaran merek dagang).
Memastikan produk skincare bayi dan anak telah diuji secara klinis (Dermatology tested) sangat penting agar kulit mereka terhindar dari iritasi dan alergi, serta tidak merusak struktur pertahanan kulit (skin barrier) anak yang dapat menyebabkan kulit kehilangan kelembapannya.
Sayangnya, label “Dermatologically tested” tidak memiliki definisi hukum yang pasti. Produsen bisa saja mengklaim produknya sudah teruji secara klinis, padahal pengujiannya hanya dilakukan pada sedikit orang dewasa dalam hitungan hari saja tanpa melakukan pengujian pada kulit dengan karakteristik seperti kulit anak.
Kulit bayi dan anak rentan mengalami iritasi akibat paparan iritan seperti SLS/SLES, paraben, dan pewangi sintetis. Parfum/pewangi (fragrance) merupakan salah satu pemicu utama reaksi alergi (contact dermatitis) pada bayi.
Perlu diketahui kalau parfum/pewangi atau fragrance dalam komposisi bahan suatu produk sering kali menjadi celah hukum (fragrance loophole) untuk menyembunyikan ratusan zat kimia tambahan, termasuk phthalates yang merupakan zat pengganggu hormon.
Selain itu, label “100% Alami” yang umumnya kaya akan minyak atsiri (essential oils) juga belum tentu cocok, karena minyak tumbuhan berkonsentrasi tinggi justru berpotensi memicu alergi kulit bayi dan anak. (*)
- Pewarta : Angga DKI
- Foto : Istimewa
- Editor : Rizal IT