Dosen Sejarah UNAIR : Kemunculan Keraton Rentan Ditunggangi Politik

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co  – Maraknya bermunculan kerajaan baru atau keraton fiktif di Indonesia, seperti Keraton Agung Sejagat semakin membuat masyarakat resah. Hal ini langsung ditanggapi oleh Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Adrian Perkasa S.Hum., M.A.

Adrian Perkasa menghubungkan fenomena tersebut dengan perspektif revivalisme. Menurutnya, kemunculan keraton abal-abal tersebut rentan ditunggangi politik.

“Revivalisme menurut Henley dan Davidson (2008) yaitu ide akan kebangkitan kejayaan suatu masa keemasan kerajaan pada masa lalu. Munculnya istilah revivalisme berawal dari tradisi kristiani kemudian berkembang hingga kini,” kata Adrian melalui rilis resminya di Surabaya, Senin, (27/01/20).

“Kemunculan revivalisme di Indonesia akhir-akhir ini sangat berkaitan dengan perkembangan pasca-reformasi,” sambungnya.

Adrian melanjutkan bahwa sebenarnya fenomena itu sudah mengemuka secara massif sejak lunturnya otoritas yang sentralistik. Pada awalnya, reformasi menunjukkan optimisme terhadap perubahan ke arah yang lebih baik justru menghasilkan tatanan yang dianggap lebih kacau.

Di tengah derasnya arus modenisme segelintir masyarakat masih meyakini unsur magis dan keinginan membangkitkan kejayaan nusantara seperti dulu. Fenomena itu muncul tak hanya di Jawa. Contohnya di Sumbawa tiba-tiba muncul kerajaan dimana terdapat masyarakat adat. Pendukung kerajaan tersebut bukanlah masyarakat adat, justru perusahaan besar.

“Kita bisa lihat bahwa revivalisme semacam ini rentan ditunggangi oleh tokoh-tokoh yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan orang-orang tertentu,” terang dosen yang pernah menempuh studi S1 Hubungan Internasional itu.

Hal itu merupakan kesempatan besar bagi beberapa tokoh tertentu untuk berkuasa, mencari uang, atau menungganginya untuk kepentingan ekonomi, politik, dan lainnya.

Terdapat berbagai faktor masyarakat Indonesia yang rentan percaya terhadap kerajaan fiktif tersebut. Pertama, meyakini kepercayaan dengan sungguh, masih percaya akan adanya unsur magis dari seorang tokoh. Kedua, karena faktor struktural, dimana situasi pasca-reformasi dianggap lebih kacau sehingga banyak orang mencari alternatif.

“Fenomena ini mirip dengan maraknya orang-orang yang berobat di pengobatan tradisional dari pada pengobatan mengikuti ilmu medis yang berkembang. Mencari jalur alternatif lain,” paparnya.

Meski demikian, Adrian menyayangkan penangkapan Raja dan Ratu KAS tersebut. Menurutnya, belum tentu mereka melakukan tindakan pidana. Karena, menurut Adrian, apabila ada korban yang merasa tertipu tinggal dilaporkan saja.

Menyikapi fenomena tersebut, Adrian menyarankan masyarakat untuk meningkatkan literasi, tidak mudah menertawakan atau memviralkan, dan juga harus melibatkan peran sejarawan. (Tls)

You may also like...