Dosen UK Petra Prediksi Pandemi Covid-19 di Jatim Berakhir Bulan Agustus 2020

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Pandemi virus cororna (Covid-19) yang meresahkan banyak masyarakat hingga melumpuhkan perekonomian di Jawa Timur ini diprediksi akan berakhir pada pertengahan bulan Agustus 2020.

Prediksi tersebut disampaikan oleh dosen Program International Business Engineering (IBE) UK Petra, Dra. Indriati Njoto Bisono, M.Sc., Ph.D., dan dosen luar biasa program IBE UK Petra yang saat ini menjabat sebagai Vice President di MicroStrategy Technology, perusahaan software di bidang Business Intelligence/Business Analytics, USA.Ir. Drs.Ec., Hanijanto Soewandi., M.Eng, Ph.D.

Dra. Indriati Njoto Bisono menyampaikan bahwa, prediksi berakhirnya pandemi Covid-19 ini bukan tanpa alasan. Karena, mereka telah membuat riset prediksi kapan wabah Covid-19 ini berakhir.

“Apabila tidak ada perubahan yang mencolok dan vaksin belum ditemukan, maka untuk wilayah Jawa Timur berdasarkan data mulai 25 Maret sampai dengan 5 Juni 2020 pandemik diprediksi akan berakhir sekitar pertengahan Agustus 2020,” kata ucap Indri, Rabu, (10/06/20).

“Sedangkan, untuk Indonesia pandemi diprediksi akan berakhir sekitar akhir September 2020. Prediksi untuk 33 provinsi yang lain dapat di monitor di laman dsi.ibe.petra.ac.id,” imbuhnya.

Harapan berakhirnya pandemi covid-19 lanjut Dra. Indriati, selalu bergema di hati setiap insan, bak orang yang berjalan di lorong gelap. Oleh karena itu, mereka berdua berusaha memprediksi kapan pandemi berakhir. Sehingga, hasil prediksi dapat memberikan sedikit cahaya di ujung lorong sehingga ada harapan untuk “menari” kembali.

“Kami berdua bekerja hampir setiap hari untuk mengumpulkan data, menulis script dan memodelkan data covid-19 dengan segala tantangan dan pernak-perniknya,” terang Indri.

Menurut dua dosen tersebut, data untuk prediksi worldwide dan data per provinsi di Indonesia di ambil dari sumber resmi Kementrian Kesehatan RI. Sedangkan model yang dipakai untuk memprediksi tidak hanya satu melainkan tiga model, dari ketiganya diambil yang terbaik.

Ketiga model yang digunakan awalnya dibangun untuk memprediksi pertumbuhan populasi (Logistic Model), tingkat penjualan dengan menambahkan faktor word of mouth (Bass Model) dan perkembangan sel tumor (Gompertz).

“Dalam kasus covid-19 secara natural kita percaya jumlah orang yang terinfeksi akan mengikuti kurva S, meningkat perlahan-lahan kemudian meningkat cepat dan akhirnya mencapai nilai tertentu, tidak akan membesar tanpa batas. Ketiga model tersebut mempunyai sifat seperti ini, sehingga bisa kita pakai untuk memodelkan pandemi covid-19,” paparnya.

Ketiga model ini lebih sederhana dibanding model SIR (Susceptible-Infectious-Recovered), namun tetap mempunyai kemampuan tinggi untuk memprediksi wabah covid-19 dan lebih mudah dilakukan.

Presentasi hasil penelitian ini ditayangkan dalam dashboard yang diberdayakan oleh MicroStrategy, dan dapat diakses worldwide di laman Data Science and Innovation Laboratory IBE (dsi.ibe.petra.ac.id/covid19).

Data dan prediksi terus menerus diperbaharui, ini yang dikenal dengan predictive monitoring. Hasil prediksi sangat tergantung pada data yang masuk dan akan berubah-ubah mengikuti pola data.

“Akan tetapi sekali lagi hal ini bukan model pengambilan keputusan, melainkan model Time Series yang menggambarkan hasil dari keputusan-keputusan pemerintah dan organisasi di Indonesia (atau di dunia) dalam menangani pandemi Covid-19 ini,” ungkap Indri.(*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...