Geliat Unair Ajak Masyarakat Turut Ambil Andil Eliminasi Tuberculosis Anak

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan anak, Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat (GELIAT) Universitas Airlangga (Unair) secara konsisten terus mengajak masyarakat untuk turut ambil andil dalam penanganan terkait Tuberculosis terhadap anak.

Kali ini, Geliat Unair bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Prov Jatim) serta stakeholder terkait menyelenggarakan agenda webinar fasiltas kesehatan terkait Tuberkulosis Anak pada Kamis, (22/09/22).

Ketua Geliat UNAIR Prof Dr Nyoman Anita Damayanti drg MS menyampaikan bahwa, kampanye kesehatan terhadap ibu dan anak ini merupakan Unair dan Unicef Indonesia untuk terus mendukung berbagai upaya kesehatan terhadap anak melalui program eliminasi tuberkulosis anak.

“Tuberkulosis yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru. Di Indonesia, angka kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun,” tutur Prof. Nyoman.

Untuk itu, lanjut Prof. Nyoman, pentingnya untuk melakukan pencegahan penyakit TBC terhadap anak. Hal ini yang mendasari Unair dan Unicef Indonesia untuk terus mengkampanyekan ajakan turut berpartisipasi dalam penanganan penyakit TBC sejak dini.

Pada materi pertama, Inna Maharani dari P2P Dinkes Jatim memaparkan bahwa, penyakit TBC masih banyak ditemukan, sekurang-kurangnya 500.000 anak menderita TBC setiap tahun di dunia.

“Penularan TBC bisa dengan kuman TB terhirup oleh orang lain melalui saluran pernafasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan kuman. TB keluar ke udara pada saat penderita TB batuk, bersin atau berbicara. Dan, apabila daya tahan tubuh lemah, anak akan mudah terserang TB,” terang Inna.

Sedangkan, gejala penyakit TBC pada anak antara lain nafsu makan menurun, BB turun dan tidak naik atau naik namun tidak sesuai grafik tumbuh, gagal tumbuh, demam tidak tinggi yang kronik atau berulang dengan penyebab yang tidak jelas, anak tidak aktif (lemas, letih, malaise kronik), batuk kronik selama kurang lebih 2 minggu, dan riwayat kontak dengan pasien TBC dewasa yang infeksius (dahak mengandung kuman BTA positif).

Baca Juga  Pemkot Surabaya Siap Dukung Upaya UK Petra Menjadikan Surabaya Sebagai Kota Start-Up

BKMP Unair, Eko Supeno menjelaskan, untuk diagnosis TBC pada anak yaitu dengan melihat gejala penyakit yang dicurigai ke arah TBC, melakukan pemeriksaan fisis yang sesuai dengan gejala TBC seperti status gizi (gizi kurang, gizi buruk, gagal tumbuh), demam lama lebih dari 2 minggu, pembesaran kelenjar getah bening regional, pembengkakan sendi atau tulang, melakukan uji  tuberculin (mantaouxtest) seperti penyuntikan protein tuberculin di bawah kulit, dibaca reaksi kulit dalam 48-72 jam, penilaian diameter penebalan kulit/indurasi, melakukan tes darah IGRA (Inteferon Gamma Releasing Assay), melakukan Tes Cepat Molekular (TMC) dan foto rontgen paru.

Pengobatan yang dilakukan untuk penderita TBC adalah dengan terapi jangka panjang dengan lama antara 6-12 bulan tergantung derajat penyakit, TBC ringan akan diberikan obat selama 6 bulan sedangkan TBC dengan kerusakan paru yang luas diberikan selama 9-12 bulan, dan pasien akan diberikan 3 atau 4 macam obat. Terapi bisa dilakukan melalui pemberian obat yang diberikan setiap bulan dan tidak boleh terputus karena apabila teputus akan berdampak kuman TBC menjadi kebal dan hanya dokter yang dapat menentukan penghentian pemberian obat.

Pencegahan penyakit TBC yaitu dengan pemberian vaksin BCG pada anak dapat memberikan kekebalan tehadap bakteri penyebab TBC, usahakanuntuk melakukan olahraga setiap hari, mengkonsumsi makanan bergizi, jangan meludah atau membuang dahak sembarangan, hindari kontak langsung dengan penderita TBC serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.  (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...