Mahasiswa ITS Semprotkan Disinfektan ke 250 Rumah di Kampung Surabaya

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Dukung masyarakat cegah penyebaran Virus Corona (Covid-19) mahasiswa yang tergabung dalam Program Digital Marketing Camp (DMC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lakukan aksi peduli dengan menyemprotkan Disinfektan ke 250 Rumah di Kampung Surabaya.

Chandra Kartika Ahmad Ibrahim, salah satu relawan yang turun langsung ke lapangan, mengatakan bahwa, aksi ini sebagai bentuk kepedulian mahasiswa ITS akan wabah virus corona yang di masyarakat.

“Aksi sosial dengan menyemprotkan disinfektan di kampung nelayan dan kampung di sekitar Stasiun Kereta Api Kalimas Surabaya, sudah dimulai sejak Senin (23/3) lalu,” kata Chandra saat dijumpai melakukan penyemprotan di salah satu rumah warga, Kamis, (26/03/20).

“Selain itu, kami juga membagikan cairan antiseptik di dua kampung yang cukup padat penduduknya tersebut,” tambahnya.

Penyemprotan disinfektan yang dilakukan kurang lebih kepada 250 rumah dipilih memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi dan rasanya belum terjangkau oleh pemerintah. Meskipun, belum tercatat ada riwayat penderita corona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di wilayah tersebut.

“Tidak ada data yang kami terima soal riwayat positif, ODP, dan PDP sebelumnya, tetapi saya ingin menggarisbawahi bahwa bukan berarti di daerah ini negatif Covid-19,” terangnya.

Penyemprotan dilakukan pada dua titik, yang pertama di wilayah RT 04/RW I, Kelurahan Tambak Sarioso, Kecamatan Asemrowo, Surabaya Barat. Cakupan di wilayah tersebut kurang lebih 100 rumah, beserta Sekolah Dasar, masjid, dan mushola.

Kegiatan kemudian dilanjutkan di titik penyemprotan kedua yang berada di kampung sekitar Stasiun Kereta Api Kalimas. Tepatnya di RT 01/RW01 dan RT 08/RW 06 Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan. Chandra bersama lima temannya memulai penyemprotan dari pukul 06.00 pagi hingga 18.00 malam.

Baca Juga  Menjadi Relawan Covid-19, Solusi Baru Penuhi Kewajiban Perkuliahan

Chandra mengungkapkan bahwa mereka membagi waktu menjadi tiga sesi. Pertama dari pukul 6 hingga 9 pagi, beralih ke titik kedua dari pukul 10 hingga 11 siang, dan berlanjut di sore hari dari pukul 4 hingga 6.

“Hal ini bertujuan untuk mengikuti standar penyemprotan yang mana cairan disinfektan tidak boleh langsung terkena oleh sinar matahari,” tegasnya menjelaskan.

Mahasiswa program DMC yang bekerjasama dengan startup asal ITS bernama kayöne health menjelakan mereka membawa 50 liter cairan disinfektan agar disinfektan yang digunakan dan tata cara penyemprotan sesuai dengan standar Kemenkes (Kementerian Kesehatan) dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

Ke depannya, mereka juga berencana untuk memberikan pasokan masker dan makanan karena banyak warga di daerah tersebut yang pekerjaannya membutuhkan masker. Terlebih, harganya sangat mahal sehingga masyarakat tidak mampu menjangkaunya. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Potograper : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...