Menko RI Ungkap Ketidakpastian Ekonomi Global Hingga Omnibus Law

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Hampir setiap negara di dunia memiliki tren pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah rata rata pertumbuhan ekonomi global. Situasi perekonomian global yang tidak menentu terkadang disebabkan adanya isu perang dagang dan krisis kesehatan.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koodinator Bidang Perekonomian (Menko), Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto, MBA., MMT., IPU dalam Kuliah Umum bertemakan “Arah Perkembangan Perekonomian Indonesia ke Depan dalam Mewujudkan Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan” pada Rabu, 29 Januari 2020 di Universitas Airlangga (UNAIR).

Dalam paparannya Airlangga menyampaikan bahwa, banyak peristiwa yang memberi dampak signifikan pada ekonomi global. Melemahnya European Union karna Brexit, Asia Timur memanas karena persaingan Jepang-Korea, hiperinflasi di Amerika Latin hingga yang terbaru virus corona yang membuat sektor pariwisata, otomotif, hingga perekonomian asia melemah.

“Meski peristiwa peristiwa tersebut membawa efek negatif bagi pertumbuhan ekonomi banyak negara, namun juga membawa hal positif bagi pekenomian Indonesia,” ucap Airlangga dalam sambutannya, Rabu, (29/01/20).

Di tengah ketidakpastian tersebut, Asia Tenggara, khususnya Indonesia, muncul sebagai kawasan paling stabil. Hal tersebut terjadi karena beberapa poin penting, di antaranya situasi demokrasi yang baik, lahirnya kerja sama indo pasifik, serta hubungan multilateral yang berkesinambungan antar negara.

“Hasilnya kita bisa melihat nilai tukar Indonesia yang stabil di angka tiga belas ribu enam ratus, serta pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka kisaran lima persen. Pun inflasi kita beberapa tahun belakangan mencapai angka terendah di kisaran tiga persen,” terangnya.

Airlangga kemudian turut menyoroti besarnya skill gap yang ada di Indonesia. Hal ini membuat banyak pelajar lulusan SMA dan SMK tidak terserap dalam industri. Ke depan, pemerintah merencanakan untuk membangun politeknik, vokasi, hingga lembaga pelatihan yang sesuai dengan industri yang berkembang di kawasan terkait.

“Lebih lanjut, kami akan membangun konektivitas kawasan ekonomi, integrasi kawasan utara dan selatan, serta program unggulan di kawasan ekonomi khusus seperti Malang, Jawa Tengah, dan Madura,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA mengungkapkan langkah serius UNAIR untuk terus terlibat dalam perekonomian nasional melalui teaching industry.

“Kita saat ini sedang mengembangkan teaching industry di Madura. Hal ini tentunya untuk mewadahi dan meningkatkan inovasi mahasiswa-mahasiswa kita. Karena bagaimanapun perguruan tinggi menjadi tempat utama bagi pengembangan inovasi dan pembangunan perekonomian yang mapan,” ungkap Prof. Nasih. (Tls)

You may also like...