Pakar Unair : Sinetron “Ikatan Cinta” Bukan Sebuah Realita, Penonton Harus Bijak

SURABAYA_WARTAINDONESIA.coRamainya masyarakat membincangkan sinetron yang sedang viral “Ikatan Cinta” diperankan oleh Amanda Manopo sebagai Andin dan Arya Saloka sebagai Aldebaran juga mendapat perhatian khusus pakar media Universitas Airlangga (Unair).

Pakar Media Unair, Prof. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D., mengatakan bahwa, sinetron Ikatan Cinta yang ditayangkan pada salah satu stasiun televisi mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat menganggap bahwa sinetron tersebut memiliki alur cerita yang menarik dan berbeda dari sinetron lainnya. Bahkan, sinetron itu berhasil memecahkan rekor dengan mencapai rating tertinggi.

 “Ada tiga alasan sinetron tersebut sangat digemari masyarakat. Pertama, sinetron tersebut menjadi alternatif hiburan di tengah kondisi pandemi yang masih belum usai,” ucap Prof. Ida, Selasa, (02/02/21).

“Masyarakat merasa stres dengan berita-berita tentang Covid-19 atau merasa lelah dan tertekan akibat Covid-19, sehingga masyarakat melakukan pelarian (escaping, Red) dengan mencari tayangan hiburan di televisi,” imbuhnya.

Alasan kedua, menurut guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair ini, dikarenakan tayangan lain di televisi banyak yang bersifat monoton atau seragam. Alasan ketiga adalah dengan adanya sinetron itu dapat membangun fantasi (mimpi, Red) bagi masyarakat yang saat ini sedang merasa stres akibat pandemi.

Lebih lanjut, Prof. Ida menjelaskan apabila berbicara tentang audience atau penonton pada konteks media studies, maka mereka dinilai sebagai khalayak yang aktif dalam menerjemahkan sendiri makna teks media (isi sinetron, Red). Sehingga, berdasarkan hal tersebut hanya akan ada satu atau dua orang yang terpengaruh akibat menonton sinetron maupun tayangan televisi lainnya.

Audience yang terpengaruh setelah menonton sinetron itu dapat disebabkan karena mereka merasa apa yang ditayangkan memiliki kesamaan dengan kehidupannya, tetapi kemungkinan jumlah audience yang dapat terpengaruh hanya sedikit sekali,” terangnya.

Baca Juga  UNAIR Miliki Alat Pendeteksi Virus Corona Sesuai Standart WHO

Prof. Ida berharap ke depannya tayangan-tayangan televisi yang ada harus dapat memberdayakan masyarakat, memberikan pencerahan kepada publik dan memberikan hiburan yang sehat.

“Tapi perlu diingat, ini hanya rekayasa dan bukan sebuah realita. Jadilah penonton yang bijak, penonton yang tau bahwa sinetron tersebut hanya sebuah fantasi. Produser pun sebenarnya telah memberikan disclaimer bagi masyarakat pada awal tayangan. Selain itu, masyarakat juga harus smart dalam menonton sebuah sinetron,” ungkap Prof. Ida. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...