UNAIR, UNSRI dan UNHAS Berkolaborasi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca Berbasis Sampah
SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Sebagai bentuk aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga, tiga Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) di Indonesia berkolaborasi dalam program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI).
Ketiga Perguruan Tinggi tersebut diantaranya Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Universitas Hasanuddin (UNHAS).
Mengusung skema A bertajuk “Hilirisasi Penggunaan Alat Modifikasi Komposting Sampah Organik Skala Rumah Tangga dalam Upaya Penurunan Gas Rumah Kaca dan Pengendalian Penyakit Berbasis Sampah”, program tersebut dilaksanakan di daerah masing masing.

Diantaranya, Pulau Jawa digagas oleh Assoc. Prof. Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes., dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR selaku Host, bersama dua peneliti mitra dari Pulau Sulawesi Dr. Agus Bintara Birawida, S.Kel., M.Kes. dari UNHAS (Co-Host) dan dari Pulau Sumatera Prof. Dr. Yuanita Windusari, S.Si., M.Si. dari UNSRI (Co-Host).
Prof. Dr. R. Azizah menyampaikan bahwa, urgensi program ini berangkat dari proyeksi global bahwa produksi sampah harian per kapita di negara berpenghasilan rendah dan menengah akan meningkat hingga 40% pada tahun 2050.
“Peningkatan ini berbanding lurus dengan naiknya emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya metana (CH₄) yang dihasilkan dari pembusukan anaerobik sampah organik yang tidak terkelola dengan baik di tempat pembuangan akhir,” ucap Prof. Azizah pada Jumat, (28/08/26) melalui rilis resminya.
Menurut Prof. Azizah, metana memiliki potensi pemanasan global 28 hingga 34 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam kurun waktu 100 tahun. Sampah organik rumah tangga yang menumpuk tanpa pengelolaan yang tepat juga menjadi sarang vektor penyakit seperti lalat dan tikus, yang berkontribusi pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan demam berdarah.
Sedangkan, solusi yang dihilirisasikan dalam program ini adalah alat modifikasi komposter berbasis konsorsium enzim lokal dengan sistem tertutup dan desain dua ruang dalam satu wadah. Bagian atas tong berfungsi sebagai ruang pengomposan aerobik yang mengolah sisa sayuran, sisa buah, daun kering, sisa makanan non-berminyak, dan potongan tanaman menjadi kompos padat kaya unsur hara.
Inovasi alat ini merupakan pengembangan dari hasil riset sebelumnya yang dibimbing oleh R. Azizah, di mana diuji empat perlakuan komposting mulai dari sampah tanpa pencacahan dan tanpa bioaktivator, hingga sampah tercacah yang diberi bioaktivator dan tambahan nutrisi air cucian beras. Hasilnya, kombinasi pencacahan, bioaktivator, dan nutrisi tambahan terbukti paling efektif mempercepat proses dekomposisi.
“Dengan desain dua ruang, alat ini bisa menghasilkan dua produk sekaligus kompos padat dan pupuk cair eco-lindi yang bermanfaat untuk pertanian dan lingkungan. Teknologi ini mudah digunakan, biaya pembuatannya relatif murah, dan mudah direplikasi oleh masyarakat,” terangnya.
Model kolaborasi lintas pulau ini menyatukan akademisi kesehatan lingkungan dari Jawa (UNAIR), Sulawesi (UNHAS) dan Sumatra (UNSRI). Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan memperkuat jejaring pengabdian masyarakat berbasis sains dan teknologi tepat guna (TTG) di tingkat nasional, sejalan dengan semangat program PMKI 24 PTNBH yang mendorong sinergi antar perguruan tinggi badan hukum di Indonesia.
Program ini juga secara eksplisit dirancang untuk mendukung pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
“Hilirisasi teknologi komposter modifikasi skala rumah tangga merupakan solusi aplikatif dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah organik, yang tidak hanya berkontribusi pada upaya dekarbonisasi melalui penurunan emisi metana, tetapi juga mendukung pengendalian penyakit berbasis lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkap tim peneliti.
Dengan kolaborasi tiga universitas ini, program pengabdian masyarakat berbasis inovasi teknologi tepat guna diharapkan menjadi model aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat direplikasi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, memperkuat sinergi akademik lintas pulau sekaligus memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat di tingkat akar rumput. (*)
- Pewarta : Tulus Widodo
- Foto : Istimewa
- Editor : Rizal IT