Petani Teh Kemuning Binaan BI Sukses Tembus Pasar Nasional

SOLO || WARTAINDONESIA.co – Dukung kemajuan pelaku Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), Bank Indonesia terus memberikan pendampingan mulai dari penguatan kelembagaan kelompok tani, fasilitasi pembiayaan hingga perluasan akses pasar.

Hal tersebut dibuktikan kepada salah satu produk UMKM perkebunan teh lokal yang berada di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang sukses berkembang dan menembus pasar nasional berkat pembinaan dari Bank Indonesia.

Teh Gambyong Kemuning menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia yang membuktikan bisa berkembang hingga menjadi salah satu produk teh lokal yang mulai menembus pasar nasional.

Eko Wuryanto selaku Pemilik Usaha Teh Gambyong di Desa Kemuning Solo Jawa Tengah. (Foto : Tulus/Warta Indonesia)

Eko Wuryanto selaku Pemilik Usaha Teh Gambyong menjelaskan bahwa, usaha Teh Gambyong ini dirintis sejak tahun 2012 yang berawal dari usaha rumahan dengan modal Rp8 juta. Namun, kini mampu meraup omzet sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan.

“Tidak mudah untuk membangun Teh Gambyong. Namun, saya melihat potensi besar perkebunan teh di Kemuning, terutama karena kawasan tersebut mulai ramai dikunjungi wisatawan yang tidak hanya menikmati pemandangan kebun teh, tetapi juga mencari produk teh lokal dan ingin melihat proses pengolahannya,” kata Eko saat dijumpai rekan media Jawa Timur dalam rangka Capacity Building Media bersama Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur pada Selasa, (06/10/26).

“Namun, karena fasilitas tersebut belum tersedia saya langsung tercetus untuk mengolah dan memasarkan teh sendiri,” imbuhnya.

Menurut Eko, setelah The Gambyong telah mengantongi sertifikasi Halal dan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), serta tengah memproses perizinan BPOM serta standar HACCP dan ISO, proses pembuatan teh dan pemasarannya makin mudah dan beragam.

Saat ini, pasokan teh basah yang dikelola mencapai sekitar 50-60 ton, dengan melibatkan sekitar 25 pemetik. Dengan rendemen sekitar 22,5 persen, bahan baku tersebut diolah menjadi berbagai produk teh. Diantaranya, Teh Putih (White Tea), The Hijau (Green Tea), The Oolong (Oolong Tea), The Hitam (Black Tea) dan Teh Matcha.

Baca Juga  BI : Tabligh Akbar Menjadi Bagian Ikhtiar Penguatan Ekonomi Inklusif

“Dari berbagai produk tersebut, teh hitam menjadi salah satu yang paling banyak diminati pasar. Bahkan, sejumlah pabrikan telah menyatakan minat untuk mendapatkan pasokan dari Teh Gambyong,” terangnya.

Namun, lanjut Eko, meskipun ada permintaan untuk export ke berbagai Negara namun saya belum dapat memenuhinya karena produksi yang ada masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Salah satu produk yang menjadi ciri khas Teh Gambyong adalah teh dengan karakter rasa yang menyerupai kopi. Eko menyebut karakter tersebut bukan berasal dari campuran kopi, melainkan merupakan karakter alami teh yang tumbuh di kawasan Kemuning.

Menurutnya, kondisi tanah dan sejarah perkebunan di kawasan tersebut turut memengaruhi karakter tanaman teh. Pada masa kolonial Belanda, sejumlah area perkebunan teh di Kemuning juga ditanami kopi sehingga karakter lingkungan dan tanahnya turut menjadi bagian dari kekhasan produk yang dihasilkan.

“Keberhasilan mengembangkan Teh Gambyong hingga ke pasar nasional tidak lepas dari binaan dan dukungan Bank Indonesia. Sekali lagi kami sampaikan terima kasih,” ungkap Eko. (*)

  • Pewarta : Tulus Widodo
  • Foto : Tulus
  • Editor : Ronie Dwito

You may also like...