Perkuat Keuangan Syariah, Bank Indonesia Siapkan Enam Inisiatif Strategis

SOLO || WARTAINDONESIA.co – Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report, Indonesia saat berada di peringkat keempat dalam pengembangan ekonomi syariah global setelah Malaysia, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Direktur Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yono Haryono, Ph. D. dalam pemaparan kegiatan Capacity Building bertema “Pengembangan Eksyar” pada Senin, (05/10/26) di The Royal Surakarta Heritage Solo.

Yono Haryono menyampaikan bahwa, penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar) sangat penting dilakukan. Karena, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan modal besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Mengingat, besarnya pasar domestik dan posisi Indonesia dalam industri halal global.

“Potensi tersebut sejalan dengan besarnya pasar ekonomi syariah dunia. Dengan sekitar 1,9 miliar penduduk Muslim, konsumsi sektor ekonomi syariah pada 2024 mencapai sekitar USD 2,60 triliun,” ucap Yono.

Sementara itu, lanjut Yono, aset keuangan syariah global telah mencapai sekitar USD 9,72 triliun. Posisi Indonesia antara lain ditopang sektor modest fashion yang menempati peringkat pertama secara global dan halal food di peringkat keempat.

Untuk itu, Bank Indonesia menyiapkan enam inisiatif strategis yang selaras dengan agenda pengembangan ekonomi syariah nasional. Inisiatif pertama adalah Gerbang Santri atau Gerakan Pengembangan Pesantren dan Rantai Nilai Halal. Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas usaha pesantren, digitalisasi kerja sama bisnis antarpesantren, serta memperkuat kelembagaan dan tata kelola keuangan pesantren.

Inisiatif kedua adalah Jawara Ekspor atau Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor. Program ini difokuskan pada integrasi sistem informasi pendukung ekspor produk halal, pengembangan pasar, penguatan produk, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Inisiatif ketiga, BI mendorong penguatan ekosistem halal. Agenda ini menjadi semakin penting seiring penerapan kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Dimana, penguatan ekosistem halal membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, pesantren, dan masyarakat.

Baca Juga  Garda Oto Raih The Best Car Insurance pada Otomotif Choice Award 2024

Inisiatif keempat, BI mengembangkan Sapa Syariah atau Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah. Program ini bertujuan memperkuat keterkaitan antara aktivitas perdagangan dan pembiayaan syariah sehingga pelaku usaha memiliki akses pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

Inisiatif kelima, BI mengembangkan Kanal Ziswaf atau Kolaborasi Nasional Pengembangan Ziswaf. Program ini diarahkan untuk meningkatkan peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf dalam pemberdayaan ekonomi sekaligus perlindungan sosial.

Sedangkan, inisiatif keenam, BI menyiapkan Lentera Emas atau Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah menuju Indonesia Emas.

“Program tersebut mencakup implementasi strategi nasional literasi dan inklusi Eksyar, survei literasi dan inklusi, penguatan komunikasi dan edukasi, digitalisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia edukator ekonomi syariah,” ungkap Yono.

Enam inisiatif tersebut mencakup penguatan usaha pesantren, ekspor produk halal, ekosistem halal, pembiayaan syariah, Ziswaf, serta literasi dan inklusi.

Melalui keenam inisiatif tersebut, Bank Indonesia berharap penguatan di berbagai lini tersebut dapat meningkatkan daya saing ekonomi syariah sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (*)

  • Pewarta : Tulus Widodo
  • Foto : Tulus
  • Editor : Ronie Dwito

You may also like...