Wwooww … Ratusan Dholpin Muncul di Perairan Indonesia Timur

JAKARTA_WARTAINDONESIA.co – Ada kejadian menarik dan sangat menakjubkan yang jarang sekali ditemui saat melewati Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) di Perairan Indonesia Timur. Yaitu kemunculan ratusan individu mamalia laut Lumba Lumba (Dholpin) secara bersamaan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang saat melakukan monitoring mamalia pada periode April 2020.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Aryo Hanggono menjelaskan bahwa, monitoring  dilakukan di tiga KKPN, yaitu Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Suaka Alam Perairan (SAP) Raja Ampat, dan Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido.

“Hasil monitoring mencatat ada 546 mamalia laut dengan 6 jenis yaitu Spinner Dolphin, Spotted Dolphin, Bottlenose Dolphin, Risso’s Dolphin, Melon Headed Whale, dan Pilot Whale,” kata Aryo mellaui rilis resminya di Jakarta, Sabtu, (09/05/20).

Sedangkan, monitoring mamalia laut dilakukan untuk mengetahui sebaran dan pola migrasi mamalia laut yang dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan strategi pengelolaan KKPN. Terlebih, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dua lokasi yang masuk kedalam wilayah kerja BKKPN Kupang yaitu Laut Sawu dan Laut Banda memiliki konektivitas berupa jalur atau koridor migrasi beberapa jenis paus seperti paus biru (Balaenoptera Musculus) dan paus sperma (Physeter macrocephalus).

“Mamalia laut memiliki peran penting dalam ekosistem perairan. Sehingga, pemerintah menetapkannya sebagai biota laut yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Undang-undang No. 31 Tahun 2004 jo UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan juga mengatur tentang konservasi kawasan maupun jenis ikan yang dilindungi,” terangnya.

Melanjutkan keterangan Dirjen PRL, Kepala BKKPN Kupang, Ikram M. Sangadji menjelaskan bahwa Monitoring mamalia laut dilakukan secara periodik (2 kali setahun) dengan melakukan pencatatan waktu, koordinat, jenis, jumlah individu, pola dan arah pergerakan, serta perilaku saat terjadi kemunculan.

Dari data tersebut akan didapat perkiraan lokasi habitat dan alur migrasi mamalia laut sebagai upaya mitigasi dari ancaman terhadap kelestarian mamalia laut dan perlindungan habitatnya akibat aktivitas penangkapan ikan, budidaya laut, pelayaran dan kegiatan lainnya.

“Selain itu, data series mamalia laut ini juga digunakan sebagai referensi bagi BKKPN Kupang bersama Pemerintah daerah dalam menentukan strategi pengelolaan pemanfaatan KKPN,” ungkap Ikram.

Mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba, dan dugong  merupakan jenis yang memiliki peran penting dalam ekosistem perairan. Sebagai aset dan kekayaan alam yang bernilai bioekologis, ekonomi dan sosial budaya, mamalia laut harus  dilindungi dan dilestarikan agar dapat dimanfaatkan secara tidak langsung (non estraktif) bagi masyarakat di wilayah pesisir. (*)

  • Pewarta : Angga/Tulus
  • Photo : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...