Pentas Ludruk Bukan Sekedar Tontonan Namun Membawa Pesan Mendidik
NGANJUK || WARTAINDONESIA.co – Bukan sekadar tontonan, namun pentas ludruk besutan oleh Meimura (Meijono) kali ini menjadi ajang perjumpaan lintas usia yang hangat dan penuh cerita. Dimana, anak anak bergantian membaca puisi dan monolog.
Mengusung tema “Besut Sambang Putu”, pentas Ludruk Besutan diadakan pada Sabtu malam, (25/04/26) di Rumah Sanggar Ilalang, desa Karangnongko, Kabupaten Nganjuk.
Meimura sebagai tokoh Besut, tak lagi sekadar aktor tunggal. Ia memosisikan diri sebagai kakek figur yang merangkul, bukan mendominasi. Anak-anak itu pun menjelma cucu-cucu yang riuh, polos, dan penuh rasa ingin tahu.

Semua ini selaras dengan tema ludruk garingan “Besut Sambang Putu” sebuah kunjungan, sebuah pulang, sebuah pelukan yang lama dirindukan. Dimana, Meimura mengawali penampilan dari arah jalanan desa dengan membawa obor menyala kecil yang disambut anak-anak langsung.
Keseruan terjadi ketika Meimura menapaki arena, maka terjadilah perbincangan akrab antara Besut yang renta dalam peran, namun lincah dalam rasa dengan anak-anak yang menjadi cermin masa depan. Mereka bertanya dengan polos, ia menjawab dengan jenaka. Mereka membaca puisi, ia menyulamnya dengan guyonan dan petuah ringan tanpa menggurui, tanpa jarak.
Dalam kesempatan tersebut, Besut berbagi pengetahuan tentang apa itu ludruk, apa itu Besut, dan Mei malah mempraktekkan menari remo hanya dengan iringan musik mulutnya sendiri. Di sanalah ludruk menemukan denyut barunya. Bukan hanya tawa yang dipanen, tapi juga harapan: bahwa panggung tradisi masih bisa diwariskan, bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat keakraban yang sederhana.
Dan yang mengagumkan, puisi-puisi karya penyair ternama itu mampu dibawakan anak-anak dengan sangat bagus, tak kalah dengan seniman profesional.
Mereka antara lain membacakan puisi karya Taufik Ismail (Membaca Tanda-tanda), karya Hartoyo Andangdjaja, Sutardji Calzoum Bachri (Jembatan), Sapardi Djoko Damono (Selamat Pagi Indonesia).
Salah satu di antara mereka, Sabrina namanya, selain membaca puisi juga tampil memerankan tokoh Rusmini dan berdialog dengan Besut dalam percakapan spontan yang lancar.
Perlu diketahui, komunitas Rumah Sanggar Ilalang ini didirikan oleh Agus R. Soebagyo yang di kalangan seniman akrab dipanggil Kang Rego. Ia membina ratusan anak usia SD, SMP, SMA, bahkan yang masih TK dan termasuk yang belum mengenyam bangku sekolah.
Sebagai pegiat teater, Rego mengajari anak-anak membaca puisi dan monolog, atau bermain teater. Hasilnya, mereka mampu tampil percaya diri, tidak malu-malu, dan mencetak prestasi bahkan di tingkat nasional.
Sebagian emak-emak itu adalah mantan pegiat teater semasa mahasiswa maupun sesudahnya, di Nganjuk, Kediri, Jombang, juga di Surabaya. Tak heran, potensi mereka kini menurun ke anak-anaknya. Nampaknya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Sementara Autar Abdillah yang juga tampil sebagai narasumber, sangat mengapresiasi acara ini karena telah mampu menciptakan ajang srawung sedulur, untuk menepis kebiasaan anak-anak yang kecanduan gawai.
“Ludruk adalah sarana untuk membawakan persoalan-persoalan masyarakat dengan cara-cara yang menghibur. Ludruk mengangkat sejarah lokal yang bisa jadi berbeda dengan sejarah yang ada di buku-buku,” ucap Abdillah, Sabtu, (25/04/26).
Pentas Ludruk Besutan di Rumah Ilalang ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan dan pembinaan generasi muda. Keterlibatan aktif anak-anak, dukungan komunitas, serta pendekatan ludruk yang cair dan komunikatif menunjukkan bahwa kesenian tradisi tetap relevan sebagai media ekspresi, pembelajaran, dan penguatan kebersamaan di tengah masyarakat.
Program “Jajah Deso Milangkori” oleh Meimura (Meijono) ini adalah program Pemberdayaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan RI di 10 kota di Jatim. Setelah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, segera menyusul kota Mojokerto (7/5), dan akan dijadwal kota-kota Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember. (*)
- Pewarta : Tulus Widodo
- Foto : Istimewa
- Editor : Ronie Dwito