Di Era Digitalisasi, Citra Polri Diuji, Kepercayaan Publik Menjadi Taruhan

SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Satu kesalahan oknum Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dapat dengan cepat menjadi sorotan publik. Sementara, respons cepat terhadap laporan warga bisa menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan.

Melihat kondisi tersebut, Sekolah Pascasarjana dan Pusat Studi Kepolisian Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pendekatan Madani dalam Penanganan Laporan Masyarakat oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur” pada Selasa, (15/09/26) di ASEEC Tower Unair.

Seminar Nasional yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan tersebut menghadirkan narasumber penting seperti Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., (Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR), Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Juansih, S.H., M.Hum., (Ketua Center of Women Empowerment in Law Enforcement Kemanusiaan), Prof. Dr. Sri Winarsi, S.H., M.H., (Guru Besar Fakultas Hukum UNAIR) serta Kombes. Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si., Kapolrestabes Surabaya.

Kombes. Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si., Kapolrestabes Surabaya hadiri Seminar Nasional Unair. (Foto : Tulus/Warta Indonesia)

Diskusi dipandu langsung oleh Prawitra Thalib, S.H., M.H., Koordinator Program Studi S2 Kajian Ilmu Kepolisian Sekolah Pascasarjana UNAIR.

Prawitra Thalib menyampaikan bahwa, citra Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) semakin diuji di tengah derasnya arus informasi media sosial. Oleh karena itu, melalui Seminar Nasional ini membahas semua kinerja Polri.

“Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan kepolisian. Keluhan maupun laporan warga kini dapat disampaikan melalui berbagai kanal dan dalam waktu singkat diketahui masyarakat luas,” ucap Prawitra.

Menurut Prawitra, ada beragam alasan seseorang membawa persoalannya ke media sosial. Selain ingin memperoleh perhatian, sebagian masyarakat mungkin memilih cara tersebut karena masih terdapat keraguan terhadap institusi kepolisian.

“Bisa jadi dia tidak percaya kepada Polri, bisa jadi memang dia ingin viral, ingin eksis. Namun, persoalan utama adalah bagaimana caranya ketika orang sudah membuat suatu laporan ditangani dengan baik oleh kepolisian,” tegasnya.

Baca Juga  Rektor Sediakan “Golden Ticket” Masuk UNAIR Melalui Jalur Khusus

Prawitra juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggeneralisasi perilaku oknum sebagai gambaran keseluruhan institusi Polri. Menurut dia, citra institusi sering kali justru terganggu oleh tindakan segelintir personel. Karena, oknum bukanlah representasi dari institusi.

Dalam kesempatan Seminar Nasional tersebut, Kombes. Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si., Kapolrestabes Surabaya memaparkan terkait kinerja jajaran kepolisian di wilayah Polrestabes Surabaya yang mulai disambut baik masyarakat.

“Kami tidak akan mentolerir dan menindak tegas apabila ada petugas ataupun oknum yang melakukan tindak kesalahan dalam memberikan layanan. Karena kami ingin menciptakan Kota Surabaya yang aman, damai dan tentram dengan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” tegas Luthfie.

Oleh karena itu, lanjut Luthfie, Polrestabes Surabaya terus berkomitmen melakukan pendekatan madani dalam penanganan laporan masyarakat. Baik, melakukan kunjungan maupun sosialisasi melalui media sosial.

Menurut Luthfie, ditengah kekuatan media sosial, citra Polri tidak lagi hanya dibentuk melalui pernyataan resmi institusi. Pengalaman warga saat mendapatkan pelayanan, kecepatan polisi merespons laporan, hingga perilaku satu orang anggota dapat ikut menentukan bagaimana masyarakat memandang institusi secara keseluruhan.yudhi

Sementara itu, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum. menjelaskan, kehadiran polisi tidak hanya dinilai dari penegakan hukum, tetapi juga dari kemampuan memberikan rasa aman serta kemudahan ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

“Seperti yang bisa kita lihat sekarang, pelayanan Polrestabes Surabaya menunjukkan perkembangan positif. Terutama, dalam kemudahan masyarakat menyampaikan laporan dan kecepatan petugas memberikan respons. Laporannya mudah. Inovasi bagian dari layanan yang diapresiasi karena responsnya cepat,” ungkap Prof. Suparto. (*)

  • Pewarta : Tulus Widodo
  • Foto : Tulus
  • Editor : Rizal IT

You may also like...