Limbah Air USK Laundry Ternyata Dapat Mencemari Lingkungan

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Timbulnya limbah berbahaya akibat menjamurnya Usaha Skala Kecil (USK) laundry ternyata cukup meresahkan masyarakat karena dapat mencemari lingkungan. Dimana, limbah air laundry yang dihasilkan cenderung dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dulu

Melihat kondisi tersebut, Tim Abdi Karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tercetus untuk merancang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk laundry berbasis reuse, recycle, dan recovery (3R).

Tim Abdi Karya ITS terdiri dari Cindy Synthia Putri sebagai Ketua tim Abdi Karya, Nabila Putri R, Nandalita Alifia, dan Oktsyavitto Adhitya dari Departemen Teknik Lingkungan. Serta didukung, Vaneti Kyash L, Wahid Ramadhan S dari Departemen Arsitektur dan Ifarrel Rachmanda H, mahasiswa Departemen Teknik Sipil.

Ketua tim Abdi Karya, Cindy Synthia Putri, mengatakan bahwa, limbah air yang berasal dari laundry tersebut mengandung ragam zat berbahaya. Dimana, kandungan itersebut berasal dari campuran deterjen dan kotoran pada pakaian.

“Kandungan berbahaya dari limbah tersebut antara lain adalah Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), dan fosfat. Cindy menjabarkan, nilai BOD dan COD yang tinggi dapat menyebabkan defisit oksigen yang larut di air,” kata Cindy, melalui rilisnya, Selasa, (06/10/20).

“Sementara itu, TSS mampu mengeruhkan air dan menghalangi cahaya matahari masuk. Sedangkan, fosfat dapat mendegradasi kehidupan biota air dan meningkatkan unsur hara,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan ini,” tambahnya.

Oleh karenanya, lanjut Cindy, USK laundry memerlukan unit pengolahan yang dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan tersebut. Desain IPAL rancangan Cindy dan tim ini bersifat portabel. Selain itu, IPAL ini memiliki ukuran yang sesuai dengan kesediaan ruangan laundry skala kecil.

Cindy juga menjelaskan, jika limbah keluaran alat ini akan dikumpulkan dahulu pada bak pengumpul. Selanjutnya, limbah akan disaring menggunakan pasir kali melalui proses filter biosand. Lalu, air olahan akan melalui dua kali proses adsorpsi karbon aktif menggunakan adsorben tempurung kelapa. Terakhir, limbah yang telah diolah ini akan menjadi bersih dan dapat dikumpulkan ke dalam tandon air.

Baca Juga  Tim Peneliti UNAIR Temukan Obat Pencegah Covid-19

IPAL rancangan Tim Abdi Karya ITS semakin unggul berkat penerapan 3R. Prinsip recycle terlihat pada air olahannya yang dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman hidroponik, mencuci kendaraan, serta dapat dialirkan ulang ke unit pengolahan lagi. Selain itu, pasir kali yang mulai kotor akibat proses filter dapat digunakan kembali (reuse) setelah dicuci dengan air bersih.

“Sementara, adsorben jenuh yang dihasilkan dapat dimanfaatkan (recovery) sebagai pupuk,” terangnya.

IPAL rancangan Tim Abdi Karya ITS ini telah berhasil meraih juara utama kategori USK Laundry dan Batik dalam lomba Desain Inovasi IPAL 2020, pada 18 September lalu. Pada kompetisi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, Abdi Karya berhasil mengungguli 68 tim lain dari perguruan tinggi nasional dan luar negeri.

Tim bimbingan Arseto Yekti Bagastyo ST MT MPhil, Welly Herumurti ST MSc, dan Ervin Nurhayati ST MT PhD ini berharap, rancangan mereka tidak sekadar tuntas di perlombaan tapi dapat dikembangkan lagi hingga semakin matang digunakan pegiat bisnis laundry. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...