SMP Labschool Unesa 3 Surabaya Pamerkan 68 Karya Proyek Kelulusan Siswa
SURABAYA, WARTAINDONESIA.CO – SMP Labschool Unesa 3 Surabaya memamerkan 68 karya siswa kelas 9 dalam Gelar Karya sebagai proyek kelulusan di Ciputra World, Minggu (7/6/2026).
“Program gelar karya di SMP ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi memahami teori dengan menciptakan sesuatu yang dapat ditampilkan sebagai hasil belajar mereka,” kata Kepala SMP Labschool Unesa 3 Surabaya, Dian Hijrah Saputra.
Dian menjelaskan, indikator pemahaman teori adalah kemampuan siswa menciptakan sesuatu yang dapat ditampilkan, dan karya harus sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan Nasional.
Sejak kelas 7, siswa sudah diprogramkan untuk membuat karya. Untuk kelas 7 dan 8, tema ditentukan dan siswa dapat berkelompok. Kelompok kelas 7 maksimal 5 orang, sedangkan kelas 8 maksimal 3 orang. Gelar karya kelas 7 dan 8 diadakan di sekolah sebagai persiapan.
“Kalau di kelas 9, siswa bekerja secara individu dengan bebas. Karya individu harus berkaitan dengan pelajaran selama 3 tahun di sekolah. Contoh gabungan pelajaran: PPKN dengan Bahasa Inggris, TIK dengan olahraga, TIK dengan Bahasa Inggris. Karya yang dibuat harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki siswa,” jelasnya.
Selain itu, siswa juga harus menyusun teks makalah terstruktur tentang karya mereka. Untuk persentase penilaian gelar karya memiliki bobot 30% dari penilaian kelulusan.
“Ini merupakan bagian dari penilaian selain akademik. Gelar karya menggantikan ujian praktik yang dulu ada dalam administrasi kelulusan nasional,” papar Dian.
Ia menambahkan, kegiatan ini adalah ujian terbuka bagi siswa untuk gelar karya. Sebelumnya, siswa sudah melakukan ujian tertutup untuk struktur kerangka berpikir ilmiah.
Dian menyebut syarat gelar karya ini sudah dimulai sejak tahun 2022, sebelum kurikulum “deep learning” diajukan oleh pemerintah.
“Untuk jenis karya siswa beraneka ragam, termasuk teknologi tepat guna. Ada juga kuliner yang mereka ciptakan sendiri atau yang sudah ada. Karya seni budaya seperti rancang pakaian dan manik-manik juga dibuat. Siswa bahkan membuat parfum sesuai dengan pelajaran tentang pemisahan zat,” katanya.
“Jadi, apapun yang ditampilkan adalah hasil dari apa yang mereka pelajari. Ini menunjukkan bahwa siswa memahami pembelajaran secara utuh, tidak hanya menghafal,” tambah Dian.
Untuk tindak lanjut dan potensi usaha, katanya, semua diserahkan kepada siswa. Ada siswa yang sudah membuka bisnis manik-manik dari gelar karya tahun pertama. Ada juga yang mengembangkan kuliner menjadi usaha bersama keluarga.
“Karya-karya tersebut banyak dibeli saat dipamerkan di tempat umum. Pameran di tempat umum bertujuan memotivasi siswa untuk memperbaiki dan mengembangkan usaha,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Tulus Widodo
Foto : SMP Labschool Unesa 3 Surabaya
Editor : Ronie Dwito