UKM UINSA Sulap Teras Lobi Kampus Menjadi Ruang Teater Memukau
SURABAYA || WARTAINDONESIA.co – Selain cerdas dan kritis dalam segala hal, mahasiswa juga memiliki ide ide kreatif yang out of the box untuk membuat sesuatu hal menarik.
Seperti yang dilakukan oleh Sabda Theatre, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Adab dan Humaniora UINSA Surabaya yang merubah teras lobi kampus menjadi ruang teater representatif dan memukau untuk merayakan Dies Natalis ke-30 pada Minggu (07/06/26).
Mengusung tema “Alur Asa”, perayaan ini menjadi momentum refleksi perjalanan tiga dekade Sabda Theatre dalam menjaga semangat berkesenian, kaderisasi, dan keberlanjutan teater kampus.
Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah, mengaku bangga dan salut kepada seluruh tim yang memiliki semangat untuk saling bahu membahu membuat ruang teater istimewa. Meskipun hanya menggunakan lahan teras lobi.
“Untuk tema “Alur Asa” menjadi benang merah seluruh rangkaian Dies Natalis tahun ini. Menjaga alur dimaknai sebagai upaya melanjutkan nilai, tradisi, dan perjuangan yang telah dibangun oleh generasi-generasi sebelumnya,” kata Siti.
Sementara, lanjut Siti, merawat asa berarti tetap percaya pada mimpi, menjaga fokus terhadap tujuan, dan menatap masa depan Sabda Theatre dengan optimisme meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan dan keterbatasan.
Dalam pementasan teater berjudul “Kuning”, karya Mohamad Nizar Rahmanto, S.Hum., seorang seniman teater kampus Surabaya ini menceritakan perjalanan tokoh Kuning. Dimana, pertunjukan ini menghadirkan refleksi tentang ambisi, godaan, dan pilihan hidup.
“Kisah tersebut mengajak penonton merenungkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan serta menyadari bahwa kasih sayang keluarga sering kali menjadi pelindung paling tulus dalam kehidupan,” terangnya.
Selain pementasan teater, Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre juga menghadirkan berbagai pertunjukan sastra dan budaya. Salah satuanya adalah Dewi yang membacakan puisi karya Wiji Thukul. Sementara, para alumni Sabda Theatre membawakan puisi-puisi karya WS Rendra.
Acara juga menghadirkan kolaborasi pembacaan puisi berjudul Tanpa Judul yang dibawakan oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, sastra inggris, Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Kolaborasi ini menjadi simbol perjumpaan lintas disiplin ilmu melalui ruang sastra dan kesenian.
Siti melihat perkembangan seni di Surabaya, khususnya teater, cukup positif. Saat ini semakin banyak ruang bagi anak muda untuk berekspresi, baik melalui pertunjukan, festival, maupun media digital yang membantu karya-karya seni dapat dijangkau lebih banyak orang.
“Sedangkan, tantangan terbesar yang dihadapi komunitas teater saat ini adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi,” tandasnya.
Pada usia yang ke-30 tahun, Sabda Theatre menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bagi generasi muda. Tiga dekade perjalanan ini menjadi bukti bahwa teater kampus tidak hanya bertahan sebagai organisasi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, dan pengabdian kebudayaan.
Perayaan Dies Natalis ke-30 ini menjadi bukti bahwa semangat berkesenian di lingkungan kampus masih terus hidup. Dengan segala keterbatasan yang ada, Sabda Theatre menunjukkan bahwa kerja kolektif, proses kaderisasi, dan kecintaan terhadap seni mampu melahirkan pertunjukan yang bermakna. (*)
- Pewarta : Tulus Widodo
- Foto : Istimewa
- Editor: Rizal IT