OJK : Guru Adalah Jembatan Pemerataan Literasi Keuangan Tingkat Pelajar

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mendukung peningkatan literasi dan inklusi para guru di era digital. Hal ini sebagai bentuk apresiasi OJK kepada para guru yang berperan sebagai katalis percepatan pemerataan literasi keuangan di tingkat pelajar.

Melalui program Webinar Series Literasi Keuangan bertajuk “Bagimu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” OJK mengundang 1.000 tenaga pengajar  yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Jawa Timur.

Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur Bambang Mukti Riyadi mengatakan bahwa, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, OJK telah merumuskan Strategi Pendekatan Program Literasi dan Edukasi Keuangan berdasarkan beberapa pendekatan.

“Mengacu pada strategi tersebut, dalam pelaksanaan Webinar Series ini kami akan memfokuskan pada penyampaian materi mengenai Pengenalan OJK, Waspada Pinjaman Online dan Investasi Ilegal serta Pengenalan Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB),” ucap Bambang, Jumat, (13/08/21).

Mengingat, lanjut Bambang, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2019, tingkat literasi Pasar Modal dan IKNB masih tergolong rendah di bawah sektor Perbankan. Tingkat literasi sektor Pasar Modal sebesar 4,92%, sektor Perasuransian sebesar 19,4% dan sektor Lembaga Pembiayaan sebesar 15,17%,. Sedangkan untuk sektor Perbankan sebesar 36,12%.

“Selain itu, webinar series ini bertujuan untuk menghasilkan duta-duta literasi dan edukasi keuangan sebagai perpanjangan tangan dari OJK untuk membantu  menyampaikan informasi tentang OJK, Waspada Pinjaman Online dan Investasi Ilegal serta Pengenalan Pasar Modal dan IKNB untuk lingkup Jawa Timur,” terangnya.

Disempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Sekretaris Dinas  Pendidikan Provinsi Jawa Timur Ramliyanto sangat mengapresiasi para guru yang selalu mengembangkan kompetensi kecerdasan finansial melalui kegiatan webinar series ini.

“Kami sering mendapatkan laporan dari para Kepala Sekolah, para Kepala Dinas (Kabupaten/Kota) tentang para guru yang menjadi korban investasi bodong, pinjaman online dan lembaga keuangan yang tidak jelas legalitasnya,” tandas Ramliyanto.

Baca Juga  Memasuki Tahapan WFO, Pertamina Wajibkan Seluruh Staf Ikut Rapid Test

Ramliyanto menegaskan pentingnya kegiatan ini karena para guru tidak hanya menjadi tempat jujugan (tujuan) para siswa-siswi bertanya, namun masyarakatpun menjadikan guru sebagai rujukan untuk bertanya terkait penawaran investasi dan sebagainya karena banyak guru yang menjadi tokoh dan panutan dalam komunitas. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...