Bahaya Asap Rokok Bagi Kesehatan Ibu dan Anak Anak

SURABAYA_WARTAINDONESIA.co – Dalam rangka menyambut Hari Kanker Anak Sedunia 2021, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap bahaya rokok khususnya dampak asap rokok terhadap anak anak.

Melalui dialog interaktif secara daring pada Selasa, 23 Februari 2021, FKM Unair menghadirkan narasumber hebat seperti TCSC IAKMI Pengda Jatim, Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, SKM., M.Kes, WITT Jatim, Dra. Arie Soeripan, MM dan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) Jatim.

Santi Martini selaku Ketua TCSC IAKMI juga Dekan FKM Unair mengatakan bahwa, kegiatan dialog interaktif ini bertujuan untuk mengingatkan kembali masyarakat akan bahaya asap rokok.  Terlebih, dampak negative asap rokok terhadap ibu dan anak.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Siti Rahayu Nadhiroh selaku TCSC IAKMI Pengda Jatim, memaparkan materi dampak perilaku merokok di dalam rumah bersama dengan anggota keluarga dan dampaknya terhadap Stunting.

“Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, tercatat lebih dari 158 juta terpapar oleh asap rokok di dalam rumah dan 13 juta di antaranya adalah anak berusia 0 – 4 tahun. Hal ini menjadi ancaman bagi tumbuh kembang balita sebagaimana dinyatakan bahwa paparan asap rokok, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak, memiliki hubungan dengan adanya risiko stunting,” kata Dr. Siti, Selasa, (23/02/21).

Sedangkan, Dra. Arie Soeripan, MM selaku WITT Jatim memaparkan bahayanya asap rokok bagi kesehatan dan peran wanita. Menurut Arie, rokok mengandung zat yang lebih berbahaya ketimbang asap yang dihirup oleh perokok. Ini terjadi karena asap tidak melalui filter sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang terpapar. Asap Perokok pasif turut menyerap lebih dari 4000 senyawa  kimia. Yang mana 250 jenis dikenal sangat beracun. Parahnya  lebih dari 50 jenis memicu kanker.

Baca Juga  Mahasiswa Unair Bantu Petani Manfaatkan Kulit Jeruk Manjadi Krupuk

Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan setidaknya  ada 8 juta kematian yang disebabkan oleh asap rokok dan 1,2  juta kasus di antaranya terjadi pada perokok pasif. Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 75 juta orang atau 33 persen dari jumlah penduduk Indonesia, tertinggi ketiga di dunia (Riskesdas, 2018).

“Sebanyak 49,8 persen responden yang merokok mengaku tetap mengeluarkan uang untuk membeli rokok selama masa pandemi Covid-19. Lebih dari 13 persen responden mengaku meningkat konsumsi rokoknya. Peningkatan itu dipicu pembatasan aktivitas di luar rumah /WFH.  Orang tidak banyak memiliki aktivitas sehingga lari ke aktivitas merokok di rumah,” terang Arie.

Oleh karena itu, peran wanita atau seorang ibu sangatlah penting yaitu salah satunya dengan tidak memberi dukungan kepada perokok dalam bentuk apapun seperti tidak memberi uang untuk membeli rokok, tidak memberi kesempatan kepada siapapun untuk merokok di dalam rumah, tidak menyediakan asbak, dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada anggota keluarga.

Ike salah satu anggota Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia – Jatim berbagi cerita dampak bahayanya asap rokok yang membuat kanker. Sehingga, tenggorokan harus dilubangi karena jalan napas sudah tidak berfungsi dan akibat asap rokok, hidup Ibu Ike hancur baik secara sosial dan ekonomi, tidak bisa bicara, susah berkomunikasi dengan orang lain harus didampingi keluarga untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain, sudah tidak dapat bekerja selayaknya seperti orang pada umumnya.

“Oleh karena itu, jangan sampai terjadi kepada orang yang anda sayangi apalagi anak anda. Jangan sampai ada lubang lubang tenggorokan lain karena asap rokok.  STOP MEROKOK sekarang juga dan tegakkan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok,” tegas Ike ajak masyarakat. (*)

  • Pewarta : Tulus W
  • Foto : Istimewa
  • Penerbit : Dwito

You may also like...